Jumat, 17 Desember 2010

MENYIBAK KABUT PENGANGGURAN


ENTERPRENEURSHIP - PENALAHATI NTT concern dalam usaha pengembangan potensi manusia di NTT. Salah satu pilihannya adalah dengan menggali dan mengembangkan "Spirit Kewirausahaan" agar wajah pengangguran di NTT tenggelam menjadi sejarah.  


Catatan ini ditulis dengan memakai gaya tutur khas “warga Kupang”. Sebuah catatan tentang Potensi NTT yang belum termanfaatkan. Selamat membaca!

***
Kelaparan terjadi bukan karena tak ada makanan di pasar, tetapi warga terlalu miskin, tidak mampu membelinya  (Amartya Sen, Peraih Nobel)

Pada mulanya hanya angan-angan saja, yang kitari kepala demi kepala kami disini. Setiap bertemu, ide-ide besar dan liar tumpah ruah. Salah seorang dari kami pernah bilang, " Eh lu dangar kalo dorang di Italia sana punya liga seri A dan dorang di Brasil sana bisa produksi pamain bola dunia, maka kita dong disini akan buat dorang takaget-kaget, samua mata dong malongo liat kita dong di Entete sini".

Ini kisah tentang impian hebat, hadirnya kompetisi paling akbar sepanjang sejarah. Sekolah-sekolah bola akan tumbuh dimana-mana, akan hadir pertarungan dari kaki ke kaki setiap hari, bagai liukan Ja'i, anak-anak Entete akan berpesta di lapangan apa saja. Dari tanah air ini, akan lahir pemain bola dunia sekaliber Zidane atau si hitam Pele.

Pada mulanya cerita ini dianggap sampah, karena di tanah ini impian itu hanya milik anak-anak saja, menjelang remaja usai SMU, seluruh impian "terpaksa" dikubur dalam-dalam, seperti dalamnya laut Sawu. Lautan yang jadi jembatan kemanusiaan orang-orang Entete.

Untuk apa bermimpi, jika mau makan saja, bapa dan mama dong...harus berhutang setiap hari. Dan untuk apa bermimpi hebat, jika bangku perguruan tinggi disini tak sediakan apa yang beta mau. Beta mau jadi Pemain bola bukan Pangacara. Beta mau jadi Patinju bukan Panganggur. Kreatifitaspun tumpul, arak, moke, laru jadilah kawan sehari-hari. Kokok ayampun tak sudi bangunkan semua pemuda yang pulas.

Demikianlah, kisah ini terus berlangsung dari generasi ke generasi. Adapula generasi lain yang beruntung, dapat belajar ke tanah seberang. Sialnya, ketika kembali, sebagian dari mereka...eh membangun kelas sosial baru. Mirip kerajaan langit. Semua orang dianggap bodoh, tak mangerti, apalagi bapa mama dong di kampong-kampong. Kisah ini juga berlanjut dari generasi ke generasi.

Hari ini sebagian dari kami, terbangun sadar. Kami tak seperti yang banyak orang kira. Kami bisa melakukan apa saja, karena kami mau . Tanah kami kaya raya, air kami banyak ikannya. Tanah kami (memang) kering, tapi kering tak berarti miskin. Pada mulanya semua orang menganggap ini mimpi dan kami akan menjaga mimpi ini. Hingga akhirnya semuanya menjadi nyata dan selamanya.
FARIS VALERYAN WANGGE

MENGAPA "ROFINA" TIDAK MAU KE PUSKESMAS?


KESEHATAN IBU ANAK - Fasilitator PENALAHATI NTT pernah melatih para pegiat Promosi Kesehatan (PROMKES) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, tanggal 22-26 Juni 2010. Catatan ini mengungkap "sisi lain" dari pelatihan di Kota Bajawa itu.

**
Dihantar Pak Kades, sepeda motor itu melaju cepat dan berhenti dilintasan jalan persis di mulut sebuah rumah. Dalam bathin saya bertanya-tanya, rumah siapakah ini?

Faubata sebuah desa di Kota Bajawa, Nusa Tenggara Timur. Melintasi desa ini dua puluh tahun silam tentu berbeda, kini Faubata terbilang maju. Pembangunan infrastruktur menghadirkan denyut yang berbeda. Faubata kini telah berubah, banyak dijumpai rumah-rumah dengan arsitektur modern saling berapit. 

Sejenak mengingat Faubata yang lampau adalah mengingat stasiun bensin satu-satunya di Kota Bajawa, gudang beras Dolog, stasiun PLN dan air terjun Ogi. Semuanya masih ada namun tak lagi menjadi khas. Faubata telah berubah, arah pembangunan kota tampaknya bergeser ke desa ini. Di lintasan jalan Faubata inilah saya berdiri.

Tak beberapa lama rombongan tim promosi kesehatan (promkes) tiba di pinggang jalan yang sama. Rumah siapakah ini? Kembali bathin saya bertanya, tentu saja karena wajah rumah ini kontras dengan rumah-rumah lainnya disekitar. Rumah yang dibangun seadanya.

Tampak dinding ruang tengah penuh tempelan koran dan stiker, ada jam dinding yang menggantung, tampaknya oleh-oleh dari konstestan Pemilu Kada. Ruang yang lembab beralaskan tanah, hanya satu meja kecil dan kursi reot berjejer. Terus saja, saya mengamati satu-persatu dinding penuh kertas itu,lalu melangkah ke arah pintu utama. Tampak dua drum bekas galian aspal berjejer menampung air bekas tirisan hujan, juga beberapa bibit pohon kurus yang tergeletak begitu saja di halaman.

Tak berapa lama seorang Ibu datang, mempersilahkan kami duduk. Wajahnya terlihat keheranan karena rumahnya dikunjungi. Sementara rombongan yang lain membagi diri ke rumah-rumah penduduk disekitar. Tinggalah saya berdua dengan seorang Ibu muda Staf senior Dinkes.

“Ibu saya tidak mau periksa, dulu waktu anak kelima saya pernah ke ruma sakit, terus saya disteril, biar tidak hamil lagi. Tapi ternyata saya bisa hamil lagi, sekarang saya pu anak ada sembilan” Demikian Rofina, Ibu yang tampak pucat itu bertutur. Rofina mengakui bahwa ia tak lagi percaya dengan sistem KB di rumah sakit. Ia lalu bercerita tentang kesehatan dirinya yang kini terus memburuk. “Saya sering pusing jadi saya tidk kemana-mana saya di rumah saja”.

Lantas bagaimana dengan sekolah anak-anak, tanya kami. Anak saya yang pertama sekarang sudah kerja jadi tukang ojek, yang kedua masih SD tapi sudah tidk mau sekolah lagi dan yang lain masih kecil-kecil. Ujarnya, sambil menunjuk satu persatu anaknya.

Tampak oleh kami anak-anak yang tak terurus. Baju dekil seadanya menambah muram. “Dua anak saya yang paling kecil belum di imunisasi, tapi mereka tidak apa-apa, sehat-sehat saja. Anak rofina yang paling bungsu berusia setahun sedang tergeletak bermain tanah ditemani saudari-saudarinya yang lain. Pengakuannya sejak anak pertama hingga bungsu, proses persalinannya dibantu dukun.

Kami tersadar Ibu Rofina yang baru berusia 40 tahun itu ternyata memiliki 9 orang anak yang masih kecil-kecil. Kesehatannyapun buruk, namun tak ada niat apa-apa untuk memeriksa kesehatannya ke Puskesmas atau Posyandu. Rofina mengidap penyakit yang akut. Saat yang sama kami menghadapi situasi anak-anak Rofina yang tak sekolah itu. Lalu bagaimana dengan masa depan anak-anaknya? FARIS VALERYAN WANGGE

BELAJARLAH DARI PAPALELE !!


ENTERPRENEURSHIP-Catatan ini dibuat dengan menggunakan gaya tutur khas“warga Kupang”. Sebuah catatan tentang impian sederhana dari pegiat PENALAHATI NTT membangun "Sekolah Enterpreneurship" di Nusa Tenggara Timur. Selamat membaca !!

***
Ternyata Guru bisnis banyak betul di Entete (Propinsi Nusa Tenggara Timur). Mereka umumnya ada di sudut-sudut pasar, ada di pinggang-pinggang jalan (Pedagang Kecil). Kita biasa panggil mereka Papalele ato Mamalele. Bila para Guru luar biasa ini, kita minta bercerita (Sharing) tentang “Pengalaman Terbaik” (Apreciative Inquiri Method) , dengan cara yang tepat (Teknik), dengan pertanyaan yang pas (Probing), maka yakin dan percayalah, “ Untuk apa pi sekolah jau-jau, dari mareka kita su bisa banyak dapa Ilmu Bisnis (Basis Pengalaman).

Ada kawan kasi komentar begini, "Ama untuk apa sekolah basar-basar, buang uang banyak-banyak, ternyata wakto pulang, ujungnya pisorong diri jadi Pe En Es (Pegawai Negri Sipil), yang jika sonde kuat Iman, saban waktu berubah jadi tukang pancuri (Koruptor). Kalo ada isu pemakaran wilayah samua rame-rame mendukung, biar kalo ada Kabupaten baru, ada peluang tenaga baru Pemerintah butuh (Desentralisasi). Sebaiknya Pemerintah mulai pikirkan dan bangun Sekolah Teknologi Kreatif, biar otak kanan su mulai bermain, jangan otak kiri terus.

Mereka para Guru kehidupan ini saban nanti, kita mo ajak bakumpul, bacarita-carita (Sharing) tentang pengalaman tarbaik mereka di Rumah Dialog. Kita biasa bilang pangalaman setiap orang itu aset (Aset Based). Dorang punya banyak pangalaman hebat yang bisa kita petik (Reframing).

Mereka guru-guru hebat alumnus Sekolah Kehidupan (Pengalaman) yang punya kemauan besar untuk jaga dong pung hidup (Martabat). Dorang punya cara atur uang (Managemen). Dorang ju dianggap orang-orang pinggiran (Kaum Marginal). Berjualan di emper emper pasar, bakalilling (Sales) dengan penghasilan yang sonde jelas.

Dalam dialog dengan beberapa kawan tentang semangat wirausaha, solusinya lagi-lagi ini semua tanggung jawab Negara (HAM Ekosob). Ya. Betul semua, orang yang mengerti tidak bantah itu. Negara punya kewajiban untuk urusan periuk nasi warganya. Tapi, kita mo kasi ilustrasi begini, " Kalo Papalele dong tunggu Negara bantu, pasti dong su mati jao jao hari. Sementara Pemarintah dong sibuk omong anggaran (APBD), pake istilah tinggi-tinggi yang Bapa ma dorang Sonde mengerti (Rezim Komunikasi).

Kita mo ajak para Guru hebat ini, biar anak-anak muda (Young) bisa belajar dari pengalaman mereka. Biar bisa jadi ulet dan sonde malu kerja seperti mereka (Militan). Setelah itu kita padukan model bisnis kontemporer yang maju seperti di Singapura dengan Kearifan Local (Local Wisdom) seperti apa yang sudah di praktekkan oleh mereka.

Bahasa tingginya NTT School for Entrepreneurship (Sekolah untuk Wirausaha). Membangun konsep sederhana dengan memetik pengalaman terbaik Papalele lalu dipadukan dengan Strategi Bisnis Kontemporer (Kolaborasi). Untuk anak muda di Entete, sekolah ini cocok untuk di jalankan.

Mimpinya biar kelak waktu Entete bisa maju seperti Negara Singapura dimana Wirausaha menjadi kegandrungan utama orang-orang disana dan tumpuan (fondasi) terbaik bangunan (Konstruksi) ekonomi Negara termaju di Asia Tenggara. FARIS VALERYAN WANGGE

Kamis, 16 Desember 2010

KEMATIAN SUNYI DI BATAS NEGERI














KESEHATAN IBU ANAK - PENALAHATI NUSANTARA tak pernah melepaskan diri dari upaya untuk mengintervensi tingginya angka kematian ibu anak di Indonesia termasuk di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tulisan ini merupakan sebentuk refleksi tentang kenyataan tingginya angka kematian ibu anak di NTT. Selamat membaca!!

Angin dingin bertiup kencang saat saya sampai di Atambua, ibukota Kabupaten Belu yang terletak di perbatasan Republik Indonesia dan Timor Leste ini. Berbeda dengan saat kunjungan saya pada bulan Februari lalu, sengatan matahari dan panas cuaca tidak terasakan. Terasa nyaman, mestinya.

Sayang, ada yang mengganggu pikiran saya saat bertemu dengan seorang kawan yang beraktivitas di program-program kesehatan ibu dan anak. Bagaimana tidak, setelah saling bertukar kabar, kawan saya menceritakan jumlah kematian ibu sampai pertengahan tahun ini. “Sampai bulan Juni ini sudah ada 14 ibu yang meninggal dunia saat persalinan,”ceritanya dengan suara sedih.


Saya terperanjat. Angka ini sungguh mengagetkan di tengah upaya untuk menekan angka kematian ibu. Bagaimana tidak, kalau merujuk pada jumlah di tahun-tahun sebelumnya: pada 2008 ada 10 kasus kematian ibu, 2009 naik menjadi 19 kasus, dan sekarang, baru sampai pertengahan tahun sudah 14 ibu yang meninggal dunia. Lantas, bagaimana di akhir tahun nanti? 

Bisa dipastikan akan terjadi peningkatan. Bagaimana mungkin di tengah jargon Revolusi KIA (Kesehatan Ibu Anak) yang sedang dipromosikan Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terjadi kenaikan kasus kematian di Kabupaten Belu?


Kawan tadi terus bercerita. Menurutnya, semua kasus kematian di tahun 2010 ini terjadi akibat persalinan di rumah dan ditolong oleh dukun beranak. “Semuanya karena kasus perdarahan. Keluarga terlambat mengambil keputusan, terlambat merujuk ke rumah sakit dan terlambat mendapatkan pertolongan bidan,”ujarnya.


Terlambat mengambil keputusan, karena ibu yang akan melakukan persalinan tidak punya hak untuk mengambil keputusan sendiri. Saat komplikasi terjadi, pihak keluarga tidak langsung membawa ibu hamil ke bidan, puskesmas atau rumah sakit terdekat. 
Mereka harus menunggu orang yang dituakan, biasanya mertua lelaki, untuk memutuskan kemana sang ibu akan dibawa. Dan, sialnya, sang mertua memutuskan untuk dibawa ke dukun. Alasannya sangat sederhana, “Dari dulu urusan beranak memang diurus dukun. Kau pun (pada sang ibu hamil dan suaminya) lahir dengan bantuan dukun.”


Saya terdiam mendengar cerita itu. Apalagi setelah mendengar lanjutannya, keputusan itu berakibat fatal. Dukun tidak mampu mengatasi komplikasi perdarahan yang terjadi, hanya sibuk berteriak-teriak menyuruh sang ibu mengejan untuk mendorong bayi keluar. Dan, itu berlangsung selama tiga hari, sampai sang ibu kehabisan tenaga dan darah. Tak kuat lagi, dan meregang nyawa di bawah tatapan mata dukun yang tidak tahu harus berbuat apa lagi. Bayi yang dikandung juga tidak tertolong, pergi bersama sang bunda. Keluarga dan mertua kemudian hanya menyatakan, bahwa ini adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.


Saya geram mendengarnya. Pertama, bagaimana mungkin di jaman yang serba maju seperti ini masyarakat kita masih menyerahkan urusan persalinan pada dukun? Seperti bangsa primitif saja! Yang kedua, bagaimana mungkin urusan kematian akibat pengambilan keputusan yang keliru kemudian diserahkan menjadi tanggung jawab Tuhan? 

Saya yakin, Tuhan pun akan geram mendengar kehidupan yang dianugrahkan-Nya disia-siakan begitu saja dan kemudian Ia dianggap bertanggung jawab.


Terlambat merujuk ke rumah sakit juga penyebab kematian lainnya. Menurut seorang kawan lain, yang berprofesi sebagai dokter, jika perdarahan terjadi, maka waktu ibu untuk bertahan hanyalah dua jam saja. Lewat dari itu, bisa dipastikan sang ibu akan meninggal dunia. Keterlambatan pada kasus kematian ibu yang ada terjadi karena sang ibu dan keluarganya tak punya uang untuk biaya transportasi. Sialnya, tak ada seorang pun yang memberi bantuan. 

Padahal, di desa dimana ibu itu meninggal, ada banyak orang yang memiliki mobil yang bisa dipinjamkan untuk mengantar sang ibu. “Pada bayi lebih singkat lagi. Jika seorang bayi lahir dan tidak menangis dalam waktu 8 menit, maka bisa dipastikan nyawanya tidak akan tertolong lagi,”ujar kawan saya yang dokter itu.


Saya semakin geram ketika mendengar kasus kematian lainnya. Seorang ibu, dari pemeriksaan sebelumnya sudah ketahuan memiliki risiko tinggi dan bakal mengalami komplikasi saat bersalin. Tapi, ketika waktunya hampir tiba, bidan di desa justru meninggalkan tempat kerja karena harus menghadiri pesta di kampung keluarganya yang jauh dari tempatnya bertugas. 

Selama lima hari dia mengurus pesta, dan ketika kembali sang ibu (bersama bayinya) telah meninggal dunia karena saat mengalami masalah saat persalinan tidak ada yang bisa memberikan pertolongan karena bidan tidak di tempat. Wah, ini benar-benar tidak bisa ditolerir. Kematian terjadi karena tenaga penolong sedang mengurus pesta? Oh, my god!


Kawan saya rupanya tidak juga berhenti mengumbar horor. Dia menceritakan hal lainnya. Menurutnya, ada kematian lain namun ditutup-tutupi oleh keluarga dan pihak-pihak berwenang. Yakni, kasus kematian seorang gadis muda di rumah tengah kebun. 

“Gadis itu hamil di luar nikah. Keluarganya malu, lantas ia diasingkan di pondok yang berada di tengah kebun, jauh dari kampung keluarganya. Saat tiba waktu persalinan, tidak ada seorang pun di dekatnya.” Gadis itu ditemukan beberapa hari kemudian dalam keadan tidak bernyawa dalam genangan darah. Aduh, saya tak habis pikir. Beginikah masyarakatku, karena urusan malu lantas bertindak seperti binatang? Saya memejamkan mata dan merasakan nyeri yang teramat sangat di hati saya.


Lantas, dimana negara dan aparatnya yang harusnya diberi wewenang untuk menjaga kesehatan dan keselamatan warganya? Bagaimana mungkin masyarakat menghadapi kematian seolah-olah sendirian tanpa ada aparat yang membantu mereka, sehingga jumlah kasus kematian terus naik dari tahun ke tahun?


Saya tak hendak berhenti bertanya. Jawaban yang saya temukan kemudian adalah jawaban klasik. Pemerintah ada dan sudah mencoba mengatasi persoalan yang ada, tapi anggaran yang tersedia tidak memadai sehingga upaya yang mereka lakukan tidak maksimal. Benarkah ketiadaan dana sebagai persoalan utamanya? 

Saya tidak mau menyerah dan mencoba mencari informasi dari beberapa “orang dalam” pemerintahan. Hasil yang saya dapatkan sungguh mengagetkan. Bukan dana tidak ada, tapi alokasi anggarannyalah yang bermasalah.


Berdasarkan data-data anggaran tahun 2009 (tentu saja saya dapatkan dengan cara tidak resmi), tersedia anggaran 130,9 milyar rupiah. Jumlah anggaran tersebut berasal dari pemerintah (Rp72,5 milyar) dan non-pemerintah (Rp58,4 milyar). 

Dari jumlah dana sebesar itu, hanya Rp20,9 milyar yang dialokasikan untuk program kesehatan masyarakat. Lainnya untuk anggaran investasi seperti bangunan dan alat sebesar Rp18,4 milyar, operasional (gaji, obat, non-medik, perjalanan dinas, akomodasi, telepon, listrik, air, dan biaya operasional lain) sebesar Rp110,1 milyar, lainnya untuk pemeliharaan sebesar Rp2,4 milyar.


Dari dana Program Kesehatan Masyarakat yang sebesar Rp20,9 milyar tadi, yang dialokasikan untuk Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) hanya sebesar Rp1.727.921.450. Dari dana sebesar itu, yang dana yang diperuntukkan untuk kegiatan langsung ke masyarakat hanya sebesar Rp2.004.000 setahun! 

Hanya 0,12% saja! Lainnya, untuk program tidak langsung. Mau tahu apa yang disebut dengan program tidak langsung? Yaitu: Manajerial dan koordinasi (1,3 milyar), pendidikan dan pelatihan personil (258 juta), monitoring dan pelaporan (17 juta), evaluasi (26 juta) dan pengadaan-pemeliharaan infrastruktruktur serta alat non medis (85 juta)


Wah, saya langsung tidak bisa menerima pernyataan bahwa tidak ada anggaran untuk program kesehatan. Bayangkan, anggaran Rp130,9 milyar harusnya cukup memadai untuk mengatasi persoalan kesehatan di satu kabupaten dengan jumlah penduduk 384.182 orang. 

Dana ada, tapi nyatanya tidak berpihak pada kaum ibu, bayi dan anak balita. Padahal, biaya persalinan satu orang ibu rata-rata hanyalah Rp 500.000. Untuk menyelamatkan 14 orang ibu yang meninggal sampai bulan Juni, berarti hanya dibutuhkan biaya tujuh juta rupiah saja! Tapi, pilihan itu tidak diambil oleh para pemegang kekuasaan. 

Mereka lebih mementingkan urusan gaji, manajerial, operasional, bangunan, dan lainnya yang tidak bisa menyelamatkan kematian ibu. Pantas, kematian sunyi para ibu dan bayi terus terjadi. Pantas, kasus kematian terus saja meningkat setiap tahunnya. Pantas saja, angin dingin Belu di bulan Juli ini tak mampu membuat nyaman hati saya! 

DICKY LOPULALAN

METODE TANPA METODE


PLA MALARIA I - Di pertengahan tahun 2010, tepatnya tanggal 12-15 Juli 2010 berlangsung Pelatihan Partisipatif Learning Action (PLA) untuk Fasilitator Malaria tingkat Kabupaten di NTT. 

PENALAHATI NTT dipercayakan menjadi Trainer dan Fasilitator dalam kegiatan ini. Pelatihan ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Kabupaten Alor dan Kabupaten Sumba Barat, selain utusan dari Dinas Kesehatan terlibat juga pegiat LSM, Tokoh Agama serta Tokoh Masyarakat. 

Tulisan ini mengungkap sisi penting Pelatihan PLA tahap 1 tersebut oleh dr Emi Ndoen, perwakilan UNICEF NTT. Selamat membaca!

***
"KAMI lelah digurui dan tidak diajak bicara. Kami lelah diberi tanpa ditanya apa yang kami butuhkan. Jangan tersinggung, kami mengerti maksud baik Anda untuk membantu kami. Kami menghargai semua yang Anda coba lakukan untuk kami, akan tetapi Anda belum mengenal kami sepenuhnya. 

Anda belum cukup menghargai apa yang kami tahu, keahlian kami, budaya kami dan cara yang kami tempuh untuk menolong diri kami sendiri."

Paragraf di atas merupakan kutipan paragraph pembuka dari buku panduan Participatory Learning & Action (PLA) untuk pemberantasan malaria berbasis masyarakat. Paragraf tersebut merupakan ungkapan hati masyarakat yang selama ini selalu dijejali dengan berbagai program tanpa pernah ditanya apa kebutuhan mereka.

Tulisan ini merupakan suatu refleksi atas pembelajaran yang saya dapat selama tiga hari terlibat dalam kegiatan pelatihan PLA bagi fasilitator malaria dalam rangka pengembangan gerakan pemberantasan malaria berbasis masyarakat di Kupang baru-baru ini.

Participatory Learning & Action (PLA) atau saya sebut di sini sebagai Pembelajaran dan Tindakan Partisipatif (PTP) merupakan suatu metode penggerakan masyarakat yang berbasis pada tindakan pembelajaran partisipatif. PTP bukan suatu metode atau barang baru tapi pada dasarnya adalah suatu metode lama dengan kemasan atau baju yang baru.

Saya tertarik untuk membagi pengalaman ini karena untuk pertama kalinya saya mengalami sendiri suatu proses pelatihan pemberantasan penyakit tanpa kuatir tentang bahasa medis, istilah teknis, nama-nama obat yang membuat pusing kepala dan juga slogan-slogan kesehatan yang mengawan-awan.

Pelatihan PTP kali ini begitu membumi, meninggalkan semua pakem-pakem pelatihan yang selalu terstruktur. PTP menggunakan metode "tanpa metode". PTP dimulai dengan apa yang dipunyai peserta, berproses bersama peserta dan menghasilkan produk akhir yang dimiliki bersama oleh para peserta dan fasilitator.

PTP ini berawal dari suatu pemikiran untuk mengubah paradigma metode pemberantasan penyakit, dalam hal ini penyakti malaria, yang selama ini selalu menempatkan masyarakat sebagai obyek dan sasaran program tanpa diberikan kesempatan atau peran yang cukup sebagai subyek untuk menolong diri mereka sendiri.

PTP lahir dari suatu kesadaran dimana selama ini para pengelola program, donor dan organisasi selalu "lebih mudah bicara tapi sulit mendengar". Masyarakat dipersepsikan sebagai kelompok yang lemah dan tidak tahu apa-apa tentang kondisi dan kebutuhan mereka.

Akibat dari persepsi lama tersebut, masyarakat kemudian berpendapat, "Kami selalu mendengar teori-teori ... kami kerap mendengar janji-janji ... tapi akhirnya hanya kesunyian ... kami tetap jadi korban ...kami tetap jadi obyek". Bukankah kita semua diberikan hanya satu mulut dan dua telinga? Ini berarti, kita sebagai pengelolah program seharusnya lebih banyak mendengar masyarakat daripadi berbicara kepada mereka. Kita harus lebih banyak bertanya apa yang mereka rasakan daripada mereka-reka perasaan dan kebutuhan mereka. Kita harus lebih banyak mendengar, menghormati dan beradaptasi dengan mereka.

Proses pelatihan PTP ini begitu sederhana dan mengalir mengikuti suasana dan dinamika peserta. Proses PTP ini berusaha mengarahkan para peserta agar nantinya di lapangan mereka dapat melakukan "pertukaran ide yang adil dan terbuka dengan masyarakat".

Sebagian besar materi pelatihan dikemas dalam bentuk permainan, tarian, puisi, lagu dan juga praktek. Peserta dibawa untuk menghayati perannya sebagai masyarakat dan berkomunikasi dengan cara masyarakat. Semua permainan dibuat bermakna. Lagu dan tarian daerah digunakan untuk membawa pesan-pesan malaria. Dengan cara ini peserta diharapkan tidak hanya "mati ketawa" dengan permainan, lagu dan tarian yang ada tapi bisa menerima materi pelatihan yang diberikan dengan cara yang lebih partisipatis. Tidak ada kesan menggurui. Yang ada hanyalah sharing berbagi pengalaman dan pengetahuan antara peserta.

Bidang putih yang diabaikan
Banyak pelajaran yang diambil dari pengalaman para fasilitator. Penala eNTiTy (Penalahati NTT red) dan Yan Ghewa, seorang fasilitator senior yang berkontribusi dalam pelatihan ini berhasil membuka cakrawala perpikir peserta untuk lebih berpikir positif dengan metode-metode sederhana.

Dalam sebuah permainan, dengan hanya berbekal sehelai kertas putih dengan gambar "titik hitam" di tengah kertas, peserta diajak mencoba mendeskripsikan apa persepsi mereka tentang masyarakat. Hampir seluruh peserta lebih memusatkan perhatiaannya pada titik hitam di tengah kertas dan lupa akan bidang putih yang lebih besar. Pelajaran yang didapat dari permainan ini adalah banyak hal kita juga lebih mudah untuk melihat kelemahan dan ketidakberdayaan masyarakat dan melupakan potensi besar yang mereka punyai. Kita terpaku pada setitik noda hitam di tengah kertas dan lupa akan potensi besar masyarakat diwakili oleh bidang putih yang lebih besar.

Metode "Batik dan Sabun"
Dalam sebuah studi kasus, Yan Ghewa menceritakan tentang bagaimana sebuah proyek perpipaan dan bak penampung air di suatu desa di Sumatra hampir gagal hanya karena masyarakat terlalu "dimanjakan" oleh pengelola proyek. Masyarakat akhirnya berhasil disadarkan hanya dengan cerita tentang sebuah baju batik dan sabun. Jika seseorang diberikan hadiah baju batik, setelah sekian lama dipakai akan kotor dan bernoda. Apakah sipemberi hadiah harus menyediakan sabun bagi orang yang menerima hadiah?

Dengan pertanyaan "apakah sabun juga harus disediakan oleh pemberi hadiah?" ternyata berhasil menggugah martabat masyarakat. Masyarakat mau berkontribusi dalam proyek dimaksud karena tidak ingin martabatnya dinodai. Mereka tidak ingin dianggap tidak mampu dan tidak mempunyai apa-apa untuk menolong diri mereka sendiri. Paradigma sebagai spesialis penerima bantuan berubah. Masyarakat melupakan daftar panjang "shopping list" bantuan yang sudah disiapkan sebelumnya dan membuat daftar baru kontribusi mereka untuk menolong diri sendiri.

Metode "Diam dan menahan diri"
Proses membangun partisipasi masyarakat tidak segampang membalikkan telapak tangan. Masyarakat punya banyak kekuatan, keahlian dan sumber daya. Namun seorang fasilitator harus sabar, butuh seni dan kreativitas tinggi untuk membangkit kemampuan dan kesadaran masyarakat. Seorang fasilitator harus mampu berdiam dan menahan diri dalam menggali masalah dan potensi masyarakat. Sedikit bicara dan perbanyak mendengar. Biarkan masyarakat datang dan menceritakan apa yang mereka rasakan. Banyak bertanya dan sabar mendengar akan membuat kita menemukan permasalahan dan solusi terhadap persoalan mereka.

Metode "tanpa metode"
"Jangan percaya saya" tapi percayalah pada apa yang Anda punyai. Slogan di atas bisa jadi merupakan take home message dari tiga hari pelatihan tersebut. Pelatihan yang tidak terikat oleh metode yang baku. Pelatihan yang tidak menggurui dan berteori. Sebuah contoh partisipasi aktif berhasil dimunculkan. Sebuah tindakan partisipasi dalam proses pembelajaran yang menggunakan metode "tanpa metode".

Jangan percaya pada semua omongan fasilitator. Jangan percaya pada omongan para pendamping. Tapi ajaklah masyarakat merasakan apa yang menjadi permasalahannya. Berilah waktu dan ruang buat mereka untuk menemukan metode mereka sendri. Metode "tanpa metode" adalah salah satu pendekatan partisipatif yang bisa mulai dipraktek. Pembelajaran dan tindakan partisipatif harus dimulai sejak proses pelatihan dan baru akan berakhir pada saat masyarakat ikut berpartisipasi.

Pada akhirnya diskusi tentang malaria tidak sebatas nyamuk-parasit-plasmodium-orang sakit dan obat. Ternyata malaria bisa juga didiskusikan di luar kamar praktek dokter - perawat - bidan - dan petugas laboratorium. Pelatihan PTP ini membuktikan malaria bisa menjadi media untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat; bukan hanya untuk memberantas malaria tapi untuk semua kegiatan pemberdayaan dan pembangunan berbasis masyarakat. Semoga! ERMI NDOEN

KEMISKINAN DI TANAH TERBERKATI

ENTERPRENEURSHIP - Sebuah tulisan dari pegiat  dan pendiri PENALAHATI NUSANTARA mengenai aset lokal NTT yang luar biasa dan belum maksimal tergarap. Semoga tulisan ini mampu mencerahkan dan menggerakan pembaca sekalian untuk memerangi kemiskinan di tanah NTT, tanah yang terberkati. Selamat membaca!!

*** 
Selama dua minggu ini saya melintasi daratan Timor. Pikiran dan gagasan yang tumbuh setiap kali saya melihat potensi yang ada membuat saya gemas pada cerita kemiskinan di daratan Timor ini. Gemas karena ingat tulisan F. Rahardi di Flores Pos. Dia mengatakan, Nusa Tenggara Timur adalah tanah yang diberkati Tuhan. 

Mau tahu alasannya? “Di tanah NTT, ada tiga jenis tanaman palma terbaik yang menjadi komoditas perdagangan penting di dunia. Yakni, kelapa, lontar, dan aren (enau).”Dalam tulisannya itu, Rahardi mengungkapkan bagaimana produk-produk turunan dari tiga jenis tanaman itu menjadi incaran negara-negara di Eropa dan Amerika. Misalnya produk berbahan batang, daun, nira, serat, serabut, buah, hingga akar. 

Produk berbahan batang jelas sangat dibutuhkan untuk bahan bangunan dan furniture (pernahkah kita tahu bahwa batang lontar sangat kuat, keras dan tahan terhadap pelbagai cuaca?), daun mengasilkan produk untuk bahan bangunan (atap), kebutuhan rumah tangga (lidi, wadah), kerajinan dan kesenian. Sedangkan nira tidak cuma bisa diolah untuk menjadi minuman (tuak, arak, sopi, moke) tapi juga gula merah dan gula semut (negara di Eropa seperti Belanda dan Spanyol sangat membutuhkannya). 

Serat dan serabut tanaman palma sangat baik untuk bahan industri fiber, furniture dan otomotif (pernah tahu jok kursi mobil Ferari menggunakan serat dan serabut kelapa?). Sedangkan buah, banyak sekali kegunaannya, dari santan, virgin coconut oil, kolang kaling, kerajinan (tempurung) bahkan formalin alami untuk pengawetan daging dan ikan. Dalam sebuah penelitian terbaru, disebutkan ada lebih dari 127 produk yang bisa dihasilkan dari ketiga jenis tanaman palma ini. Semua produk itu merupakan komoditas penting perdagangan dunia. Malaysia sekarang yang paling agresif merebut pangsa pasar dengan melakukan berbagai komodifikasi produk berbahan baku tiga jenis tanaman palma itu.

Pernyataan bahwa NTT adalah tanah terberkati membuat mata saya aktif mencari potensi sumberdaya alam yang ada di sepanjang perjalanan Kota Kupang hingga Atambua, juga di setiap tempat yang saya singgahi kemudian. Dan memang, bukan hanya tiga jenis tanaman palma itu saja yang yang saya temukan tumbuh di mana-mana (tahukah Anda, tanaman lontar di NTT tidak pernah ditanam secara khusus, melainkan tumbuh begitu saja?). Saya melihat banyak semak indigo tumbuh di sepanjang jalan dan tanah kosong. Daun dari semak ini adalah bahan baku warna biru alami. Jika Anda pernah liat warna biru pada kain tenun ikat NTT atau warna biru pada keramik China, nah bahan bakunya berasal dari tanaman ini.

Di dunia, warna alami berbasis tanaman indigo sangatlah istimewa dan sangat dibutuhkan untuk industri tekstil. Di Jepang bahkan setiap tahunnya diselenggarakan Festival Indigo Internasional. Selain indigo, saya juga melihat banyak tanaman mengkudu (akarnya bahan baku warna merah) atau delima (kulit buah untuk warna kuning). Dibandingkan tanaman yang tumbuh di Pulau Jawa, kualitas warna yang dihasilkan dari tanah Timor dan NTT lainnya jauh lebih baik. Ini terutama kandungan air yang rendah akibat tanah kapur-karang dan musim kemarau yang panjang. Sayangnya, tanaman-tanaman ini tidak lagi terlalu diperhatikan.


Padahal kebutuhan dunia atas bahan pewarna organik sekarang ini sangat tinggi sekali dan pasokan yang ada tidak memadai (sekarang dikuasi China dan India). Di NTT sendiri, para pengrajin tenun dan tekstil sekarang ini lebih menengok pewarnaan sintetik yang merusak kesehatan dan lingkungan itu.

Itu baru tanaman pewarna. Sepanjang perjalanan mata saya juga melihat mete, mangga, kemiri, berbagai aneka jenis bambu, jagung, sorgum (tahukah Anda, kandungan bio-fuel pada batang sorgum bisa sampai 40%?), kapok randu, waru (di Bali ada desa di Kabupaten Klungkung yang khusus menanam pohon waru untuk kebutuhan perkakas perahu mereka karena kelenturan serat yang dimilikinya), jarak, jati, dan masih seabrek tanaman lainnya yang seperti berlarian dan menari menawarkan diri untuk menjawab persoalan kemiskinan di tanah purba itu. 


Seperti juga tanaman pewarna, mereka memiliki kualitas tinggi justru karena rendahnya kandungan air yang mereka miliki akibat tanah kering NTT. Sampai di sini, saya kerap bertanya pada diri sendiri, “Siapa bilang kering itu miskin?”

Sayang memang, saya tidak mendengar dan melihat pemanfaatan optimal dari tanaman-tanaman ini. Mangga yang berbuah melimpah pada musimnya sering tak terjual karena sistem distribusi yang buruk sehingga lebih banyak dijadikan makanan babi (saya jadi ingat perjalanan ke Lombok dan Malang, dimana buah diolah menjadi dodol, jeli, atau keripik dan menjadi komoditas oleh-oleh yang sangat menguntungkan). Kapas randu terbuang percuma begitu saja karena hanya sedikit yang mau menenun sekarang ini. 


Begitu pula bambu kering dan mati di rumpunnya, sorgum hanya dimanfaatkan bijinya (itu pun hanya untuk acara-acara tertentu saja, jagung dijual buah mentahan tanpa pernah mengolah produk-produk turunannya, baik biji maupun batangnya yang kaya minyak itu), begitu pula waru, kemiri dan alpukat dibiarkan berserakan dan busuk di tanah, atau dijual dengan harga murah saking berlimpahnya (tahukah Anda minyak kemiri dan minyak alpukat adalah bahan baku terpenting industri spa?). Semua terbuang percuma dan hanya menjadi bahan pemerkaya unsur hara tanah.

Saya sontak gembira saat mendengar ada komunitas di Soe dan pinggiran Kupang yang memanfaatkan hasil tanaman buah yang berlimpah untuk diolah menjadi minuman sari buah beralkohol ringan. Kami menyebutnya wine buah. Dengan menggunakan teknologi fermentasi sederhana, buah belimbing, pepaya, ginseng, dan pisang diubah menjadi minuman yang menyegarkan. Harganya Rp20.000 satu botol limun. Padahal, yang saya tahu, produk sejenis ini dijual di Bali dengan harga Rp200.000 per botol ukuran lebih besar sedikit. 


Sayangnya, mencari minuman ini bukan perkara gampang. Para produsen dan penjualnya tidak berani menjual terang-terangan karena sering disantroni dan ditangkap polisi karena dianggap menjual barang terlarang. Pemerintah daerah pun tidak melindungi dan meliriknya menjadi produk unggulan daerah. Ini sungguh mengenaskan. Bukannya mendorong agar produk-produk ini berkembang dan memiliki pasar yang luas (misalnya, membangun sistem produksi dan distribusi yang berstandar internasional), penguasa malah membrangusnya dan menganggapnya sebagai barang haram.

Sebagai pelancong, tentu saja saya mencintai kuliner lokal. Itu yang pertama saya cari setiap kali saya bertandang ke tanah NTT. Tapi, ini bukan perkara gampang. Di restoran-restoran yang saya singgahi sepanjang jalan, tak banyak makanan lokal yang dijual. Paling-paling, ikan bakar (dengan bumbu khas), sei (daging asap), jagung titi (keripik jagung), dendeng manis, sambal leo, dan cah daun pepaya. Saya juga tidak berhasil menemukan warung-warung atau tempat makan yang khusus menjual makanan lokal. 

Kalah dengan warung makanan Padang yang menguasai hampir di semua kota dan titik-titik persinggahan strategis. “Kalau mau makan seperti itu harus tunggu kalau ada upacara adat Pak. Kalau hari biasa, susah memang,”ujar Bapak Tius, pengemudi yang mengantarkan kami berkeliling di Kefamenanu. Sayang sekali. Padahal, lidah saya tak sabar merasakan sayur santan daun dadap muda, nasi bambu, perkedel ikan, jagung bose, lawar ikan, nasi jagung, lavan (daging bakar dicelup darah mentah), laku tobe (tumpeng ubi kayu dicampur parutan kelapa, dan gula merah), puta laka (sagu dicampur kacang hijau), mae tobe (tumpeng ubi hutan), laku pini (seperti gaplek dimakan dengan cara dicelupkan ke gula aer/aren), pen pasu (jagung kering dimasak campur kacang dan sayuran) dan lainnya.

Usaha saya untuk mendapatkannya di wilayah pedesaan pun tidak mendapatkan hasil. Padahal, saya pikir, di desa mestinya makanan-makanan khas akan lebih mudah didapatkan. Di beberapa rumah yang menyuguhkan makanan, bukannya mendapatkan makanan lokal, saya malah mendapatkan mie instan rebus. “Malu kami pak kalau menyuguhkan makanan kampung. Jadi, kami sediakan saja makanan kota ini.” Alamak, justru ‘makanan kampung’ itu yang saya cari.

Kawan seperjalanan saya, dr. Teda Littik, menceritakan bahwa sesungguhnya orang-orang Timor sangat gemar dan ahli dalam mengolah makanan. Kalau ada pesta-pesta di Kupang, dia kerap mendapati berbagai makanan olahan yang bervariasi dengan rasa yang enak sekali. “Sayangnya memang, kewirausahaan bukanlah kebiasaan masyarakat Timor. Berbeda dengan suku Minang atau Bugis yang sudah terlatih sejak kecil untuk berdagang,”ujar dokter yang saat ini bekerja sebagai konsultan di sebuah organisasi internasional ini.

Akan tetapi, tidak lantas masyarakat Timor melupakan potensi sumberdaya alam yang mereka miliki. Walaupun, sayangnya, bersifat ekstraktif. Lihat saja kegairahan yang muncul dimana-mana, dari Belu hingga Kupang, sekarang ini. Banyak anggota masyarakat yang menggali dan menambang mangan untuk dijual ke pedagang-pedagang dari luar Timor, baik dari Jawa maupun dari luar negeri seperti negeri China, dengan harga jual Rp1.000 hingga Rp1.300 per kg-nya. “Lumayan juga hasilnya, sehari bisa dapat satu kuintal, berarti Rp100.000,- sampai Rp130.000,”kata seorang penggali dengan bangganya.

Saya hanya tersenyum kecil menanggapi kegairahannya. Di kepala saya terpikir, berapa lama keuntungan itu bakal didapatkan, karena toh model usaha ekstraktif seperti ini tidak akan bersifat panjang. Karena begitu kandungan mangan di tanah habis, maka purna juga keuntungan yang didapatkan. Belum lagi potensi konflik yang mencuat, ditambah kehancuran lingkungan yang masif. Peraturan pemerintah pun bisa menjadi penghambat kelangsungan usaha. 


Seperti di Kabupaten Kupang misalnya, Bupati telah membuat larangan penambangan dan penjualan mangan karena akan membuat pabrik pengolahan agar keuntungan yang didapatkan bisa lebih berganda. Cerita-cerita pedih juga mengiringi kegairahan itu. Misalnya saja, beberapa waktu yang lalu ada seorang ibu yang sedang hamil meninggal dunia karena tertimpa runtuhan tanah galian ketika ia sedang menambang di lubang. Pendeknya, menyarikan banyak pendapat, pertambangan dan usaha penggalian mangan tidak menjawab persoalan kemiskinan yang menghimpit tanah Timor dan NTT. Lantas apa jawabannya?

Saya teringat apa yang dikatakan ir. Ciputra beberapa waktu yang lalu. Katanya, “Syarat sebuah negara untuk keluar dari kemiskinan dan meraih kesejahteraan adalah apabila 2% dari jumlah penduduknya adalah wirausahawan.” Saya mencoba berhitung. Jumlah penduduk di tanah Timor (di Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang) adalah 1.749.364 orang (BPS 2009). Maka, wirausahawan yang dibutuhkan di Tanah Timor agar keluar dari himpitan kemiskinan adalah 34.987 orang. Saat ini ada berapa wirausahawan di seluruh kawasan Timor? Tidak ada data yang pasti. Yang pasti, jauh lebih kecil dari prasyarat tersebut.

Pikiran saya berkelana sampai ke Bangladesh. Saya teringat pada usaha yang dilakukan oleh penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus. Untuk mengentaskan kemiskinan di negara tersebut, Yunus membangun program mikro-kredit dan bisnis sosial untuk para penduduk miskin. Hasilnya luar biasa. Dalam waktu 30 tahun, Yunus dan Bank Grameen berhasil menyalurkan kredit untuk 6,6 juta wirausahawan, yang terutama adalah kaum wanita dan orang miskin. Kenapa Yunus berkonsentrasi kepada orang miskin?

”Tidak ada perbedaan antara orang miskin dengan orang yang berada. Semua manusia diciptakan beserta potensi yang tak terbatas. Tak terkecuali orang miskin. Tetapi dunia di sekeliling mereka tidak pernah memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengetahui bahwa setiap orang dari mereka membawa bakat yang menakjubkan. Bakat tersebut masih tidak diketahui dan terbungkus. Tantangan kita adalah untuk menolong orang-orang miskin mengeluarkan bakatnya.” Begitu yang dikatakan Muhammad Yunus dalam Pidatonya saat menerima Hadiah Nobel Perdamaian.

Gagasan dan pikiran yang berkecamuk di kepala saya sering melahirkan mimpi di malam hari. Mimpi tentang anak-anak muda, kaum ibu dan lelaki yang menjadi para wirausahawan-wirausahawan tangguh di tanah Timor. Jumlahnya puluhan ribu dengan memproduksi berbagai produk (barang dan jasa) berbasis potensi lokal yang ada dan menjawab persoalan kemiskinan di tanah ini. Para pelaku ini kemudian juga melahirkan lembaga keuangan yang kuat dan menyokong pendanaan dan pengembangan usaha mereka, serta membangun berbagai pasar komoditi di mana-mana. 

Dalam mimpi saya melihat, orang-orang berdatangan. Dari Timor Leste, Papua, Maluku, Lombok, Bali, Surabaya, Jakarta hingga Makassar untuk belajar mengatasi kemiskinan dan berdagang. tanah Timor. Tanah Timor yang sekarang terpecah-pecah oleh kepentingan adminstratif dan politik, menjadi sebuah kawasan yang maju dan berkilau di bawah satu nama Timor Raya. Sehat, makmur dan sejahtera. Gambarannya sederhana sekali, saya tak menemukan lagi anak-anak kurus tak berbaju bermain di pinggir jalan. Juga, tak saya dengar lagi kasus kematian ibu, bayi dan anak yang mengenaskan. 

Sialnya, itu semua cuma impian saya. Setiap kali mendusin dari tidur, saya pasti selalu menarik kembali selimut rapat-rapat dan berusaha melanjutkan mimpi tadi. Tapi, sayang sekali, biasanya gagal dan saya kembali terhempas dalam kenyataan kemiskinan di tanah terberkati ini. Entah kapan saya tak perlu bermimpi untuk mendapati kenyataan baru di tanah ini. DICKY LOPULALAN

SOE, MALAM YANG MENGGIGIL










KESEHATAN IBU ANAK - Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menjadi Kabupaten yang paling banyak menyumbang angka kematian ibu anak di NTT berdasarkan data dari AIPMNH. Tulisan dibawah ini adalah refleksi kecil tentang kondisi KIA TTS yang memprihatinkan. Selamat membaca !!

***
Kota Dingin Di Tanah Timor`
Everithing You Go Always. Setiap Kali Kau Selalu Pergi. Syair lagu inilah yang kini sedang menemani perjalanan kami. Catatan ini saya tulis dalam Kijang Grand keluaran 1995, yang tengah melaju cepat menuju Soe. Laju kendaraan ini tak sanggup menginterupsi hasrat saya untuk berbagi dengan anda, walau memang sesekali saya harus mengingatkan Robertlamanepa, kawan seperjalanan saya, agar mengurangi kecepatan mobilnya.

Memasuki jembatan Noelmina, sejenak saya menoleh ke barat, lalu ucapkan salam perpisahan pada Kupang. Saatnya berlari ke arah bukit. Jembatan Noelmina menjadi pintu perbatasan Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan Kabupaten Kupang, dan setelah jembatan ini perjalanan sebenarnya menuju Soe dimulai. Soe ada di ketinggian bukit, jauh dari laut.. .


Dari Kotamadya Kupang menuju Soe, kami harus melewati Kabupaten Kupang. Jarak tempuhnya 110 Kilometer per 120 menit parjalanan. Posisi Soe yang berada di bukit meletakan situasi alam wilayah ini kontras dengan Kota-kota lain di daratan Pulau Timor. Pulau Timor yang identik dengan temperatur udara yang panas “terpatahkan” jika anda telah berada di Kota ini. Soe sebuah kota yang beku. Maka, pastikan membawa jaket yang tebal, jika ingin lama berbetah di Soe.


Tak hanya Soe, di Nusa Tenggara Timur, ada dua Kota lain yang memiliki temperatur suhu yang nyaris sama, keduanya ada di Pulau Flores yakni Kota Bajawa di Kabupaten Ngada dan Kota Ruteng di Kabupaten Manggarai.


Tiga kota ini seringkali diperbandingkan, terutama tentang suhu dan temperatur udaranya. Di Pulau Bali pengalaman serupa, bisa diperoleh di Bedugul Kabupaten Tabanan, sedangkan di Pulau Jawa, ada Kota Bogor. Tapi ketika mengunjungi Soe, saya justru bergumam sendiri, “ahh, Kota ini jauh lebih membeku dari Bedugul”, padahal saya sama sekali tak tahu berapa derajat Celcius perbandingannya.


Tragedi Dari Ketinggian Bukit

Menembus kegelapan hutan yang sepi pada malam ini adalah perjalanan bathin yang menggetarkan. Kami seolah sedang bergegas tinggalkan kepenatan panas Kupang, menuju ketenangan sejuk Soe. Lantas apakah Soe yang sejuk berikan ruang yang tentram bagi kehidupan yang ada di dalamnya?

Sesungguhnya di balik sejuk Soe, terpendam soal besar yang menggelisahkan. Kota yang kami kunjungi ini adalah ibukota dari sebuah Kabupaten penyumbang angka kematian Ibu Anak tertinggi di Nusa Tenggara Timur.


Soe pada tahun 2009, menyumbang 45 jiwa perempuan. Mereka merengang nyawa, mati dalam kesunyian. Lantas bagaimana trend di tengah tahun ini, 2010? Saya lalu membolak-balikan catatan, fantastis, jumlah kematian Ibu kini mencapai angka 25 jiwa. Bukankah, gembar-gembor Revolusi KIA telah cukup lama di dengungkan? Apa yang dilakukan aparatus Negara dengan berbekal Pergub NTT diatas? Adakah yang tahu jawabannya? Kematian itu urusan Tuhan, demikian ucap kaum Agamawan jika pertanyaan ini diajukan. Apakah Tuhan setega ini, membiarkan puluhan Ibu-Ibu, mati sia-sia tanpa upaya apapun menolong mereka.


Di tengah kencang laju Kijang Merah yang warnanya mulai pudar ini, saya teringat sejumput cukilan kalimat Mukti Wibawa, sahabat Facebook saya, “Tuhan yang merencanakan. Kitalah yang menentukan”, ujarnya. Ucapan ini membalikan paradigma lain, “Kita merencanakan. Tuhanlah yang menentukan” Saya bersepakat dengan sahabat Mukti, kematian karena kekurangan asupan gizi; buruknya tata kelola pelayanan dan seabrek Human Erorr lainnya selalu dibawa pada pembenaran tentang Tuhan yang Maha Penentu, ini tak fair. .

Roda yang berderek diatas jejer-jejer putih mistar jalan berkelok menuju Soe, pikiran saya bercampur seribu tanya yang menggantung serta sejuta hasrat yang meluap. Dan ketika si Merah berlabuh, syair lagu berubah gagu,. “Mengapa setiap kali kau selalu pergi! Why, Everithing You Go Always. FARIS VALERYAN WANGGE

DUNIA TAK SEAMPUH DAUN KELOR

















KESEHATAN MASYARAKAT - Sebuah tulisan mengenai khasiat daun kelor. Tumbuhan yang gampang tumbuh dan paling sering dijumpai di Nusa Tenggara Timur. Semoga tulisan ini mampu menginspirasi anda untuk mengembangkan tanaman hebat ini guna meningkatkan kesehatan keluarga dan ekonomi produktif rumah tangga. Selamat membaca!!

***
Soal yang kini menjadi keprihatinan di NTT adalah tingginya angka kematian ibu anak dan gizi buruk. Dibawah ini kami menyajikan sebuah artikel tentang khasiat daun Kelor. Sebuah aset lokal yang mudah dijumpai tetapi mulai terlupakan bahkan anda mungkin saja akan ditertawakan jika berhasrat membudidayakan pohon sayur ini di sini.

Daun kelor mudah dijumpai di pulau Timor juga di pulau-pulau lain di Nusa Tenggara Timur. Orang Timor menyebutnya daun marungge. Tanaman kelor telah digunakan oleh nenek moyang kita sebagai tanaman untuk sayur, obat atau sebagai lalapan. Tanaman ini adalah tanaman yang toleran terhadap musim kemarau yang panjang, dan bertahan hidup dengan merontokkan daunnya pada saat kemarau. Kelor termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 5 -11 meter.
Pohon Kelor tidak terlalu besar, batang kayunya mudah patah dan cabangnya agak jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Daunnya berbentuk bulat telur (oval) dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai.

Tanaman kelor mengandung gizi yang tinggi dan sangat bermanfaat untuk perbaikan gizi. Terbukti bahwa kelor telah berhasil mencegah wabah kekurangan gizi di beberapa negara di Afrika dan menyelamatkan banyak nyawa anak-anak dan ibu-ibu hamil.

Dilihat dari nilai gizinya kelor adalah tanaman berkhasiat sejati (miracletree), artinya tanaman ini bisa dimanfaatkan dari akar, batang,buah dan daun serta mengandung gizi tinggi. Kandungan gizi daun kelor segar (lalapan), setara dengan; 4x vitamin A yang dikandung wortel, 7xvitamin C yang terkandung pada jeruk, 4x mineral Calsium dari susu, 3x mineral Potassium pada pisang, 3/4x zat besi pada bayam, dan 2x protein dariyogurt. Sedangkan kandungan gizi daun kelor yang dikeringkan setara dengan; 10x vitaminA yang dikandung wortel, 1/2x vitamin C yang terkandung pada jeruk, 17xmineral Calsium dari susu, 15x mineral Potassium pada pisang, 25x zat besi padabayam, dan 9x protein dari yogurt.

Tanaman yang berasal dari negara India, dan berkembang sampaike samudera pasifik, Amerika Latin, Asia Tenggara dan Afrika ini dipakai sebagai tanaman anti-santet, atau tanaman berkhasiat untuk mengatasi ilmu hitam di Indonesia. Selain itu juga sebagian penduduk di Indonesia sudah memakaitanaman ini sebagai sayur atau lalapan serta obat tradisional. Di India kelor berkhasiat sebagai obat; anemia, anxiety,asma, bronchitis, katarak, kolera, conjunctivitis, batuk, diare, infeksi mata dan telinga, demam, gangguan kelenjar, sakit kepala, tekanan darah tidak normal, radang sendi, gangguan pernafasan, scurvy,kekurangan cairan sperma dan tuberculosis.

Di beberapa negara, tanaman kelor diolah dalam bentuk makanan seperti; tepung daun kelor, bubur, sirup, teh daun kelor, sauce kelor, biskuit kelor dan lainnya. Sementara itu di Indonesia sedikit sekali orang yang memanfaatkan tanaman kelor ini sebagai makanan. Dengan banyaknya aneka masakan yang ada Indonesia (NTT) kenapa kita tidak bisa memanfaatkan kelor sebagai bahan makanan kita sehari-hari?, apalagi dengan tingginya harga daging, susu dan telur saat ini.

Dengan banyaknya kasus kematian ibu bayi dan anak serta gizi buruk di NTT, kenapa kita tidakmemanfaatkan dan mengembangkan tanaman ini? --jika anda peduli mohon kabarkan kepada saudara-saudara anda. FARIS VALERYAN WANGGE

-------- DARI BANYAK SUMBER

Selasa, 14 Desember 2010

MEMBERANTAS MALARIA DI PULAU ALOR

PLA MALARIA II- Tim PENALAHATI NTT pada tanggal 19-22 Oktober 2010 memfasilitasi pelatihan PLA Malaria tingkat Kecamatan di Kabupaten Alor, NTT. Pelatihan ini di ikuti oleh peserta Multipihak. Tulisan ini bercerita tentang situasi dan proses yang terjadi dalam kegiatan yang terselenggara atas dukungan UNICEF dan Dinas Kesehatan Kabupaten Alor. Selamat membaca !!


***
Dua pekan lalu saya dan seorang sahabat, menjejakan kaki di Pulau Alor. Setelah meniti tanah Mali yang elok, oto ambulance tua yang menjemput itu mengantar kami menuju penginapan Nurfitri Betlang persis di Teluk Mutiara pinggang kota Kalabahi. 

Disini saya lalui waktu untuk bekerja selama sepekan sembari melepas penat dari riuhnya Kota Kupang. Saat senja mulai beranjak seluruh lautan yang membentang di teluk itu, tak puas-puasnya saya nikmati, sungguh Agung Karya Sang Pencipta. Suasana disini begitu tenang tanpa hingar bingar musik dan panas yang melengket di baju.  Alor, sebuah Kabupaten otonom di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Datang Dari Tempat Yang Jauh
 “Ina bobo oo ina bobo, kalo tidak bobo, digigit nyamuk.”,  sontak gelak tawa menggelegar. Hari itu, Selasa 19 Oktober 2010, seluruh aktivitas mulai dilangsungkan bertajuk Partisipatory Learning Action (PLA) untuk calon Fasilitator Malaria tingkat Kecamatan di Kabupaten Alor. Pelatihan yang digagas Dinkes Alor ini merupakan salah satu model pelatihan yang belum lama ini di kembangkan Unicef. 

Unicef yang konsen terhadap upaya pemberantasan penyakit malaria, sudah sejak tahun 2008 mengembangkan pendekatan “Participatory Learning Action”, dimana sebagai upaya memberantas penyakit malaria berbasis masyarakat. Pendekatan PLA ini telah berhasil di berbagai daerah seperti di Halmahera Selatan, Maluku Utara, di Jayapura, Papua serta Nangroe Aceh Darusalam. 

Keberhasilan pendekatan PLA inipun sudah diakui Bappenas dan Kemenkes RI, bahkan telah diadopsi oleh beberapa negara sebagai salah satu program unggulan dalam upaya pemberantasan malaria.  PLA yang dipandang berhasil itu, kini diterapkan di NTT. NTT dipilih karena Provinsi ini menjadi salah satu wilayah endemik Malaria di Indonesia.

Dalam proses perkenalan kelompok ungkapan-ungkapan baru dan kreatif muncul dari peserta,“Kami datang dari Manaseli. Manaseli artinya tempat yang jauh. Di manaseli, warga kami banyak demam dan mati dimangsa Tiping. Tiping itu Nyamuk, jadi kalau bertemu nyamuk jangan hanya di kebas tapi dibunuh mati. Bakal tiping biasa hidup di rawa-rawa”  

Peserta PLA Alor umumnya warga masyarakat biasa dan beberapa dari mereka ada yang berprofesi sebagai Kepala Puskesmas dan Bidan. Mereka kaum biasa dari kampung yang jauh, ada yang datang dari Pulau Pantar, Maritaing, Alor Timur, Kelona Utara, Bukapiting, Alor Timur Laut, Kokar, Alor Barat Laut, Meubung, Famalabang hingga Moru. Sebagian besar berasal dari kampung kampung di balik bukit Kalabahi, jumlah mereka yang terlibat empat puluh delapan orang.  

Sebagian dari mereka datang dengan menumpang kapal motor, oto bis. Di kalabahi kisah kebersamaan itu terjadi. Lima kelompok terbagi habis ada Manaseli, Tiping, Demam, Jentik dan Rawa-rawa. “Tiping dalam salah satu bahasa lokal di Pulau Alor berarti Nyamuk. Jentik nyamuk umumnya hidup di Rawa-Rawa dan dari rawa rawa tiping dewasa terbang leluasa, mereka seperti drakula mengisap darah darah warga”  Demikian kelompok Tiping memperkenalkan diri.

Semula peserta menganggap PLA mirip seperti pelatihan yang sudah pernah mereka ikuti yang penuh ceramah, istilah-istilah asing dan tentu saja membosankan. Ternyata, asumsi ini terpatahka, PLA sungguh jauh berbeda, ini lebih dari sekedar pelatihan. PLA lebih mirip Sekolah Belajar Bersama. Seluruh peserta menjadi juru bicara untuk dirinya karena masing-masing pribdai memiliki pengalaman terbaik, unik yang tak dimiliki peserta lain. Semua peserta menjadi Narasumber. 

PLA sendiri memiliki beberapa ciri unggulan dimana peserta diajak untuk melakukan pemetaan tubuh (body mapping), village mapping (pemetaan kampung), transec walk (penelusuran desa), menyusun kalender musim, membuat kalender malaria dan merancang tindak lanjut melalui laporan kelompok pasca kunjungan lapangan. Semua ini dipelajari dan dikerjakan dalam suasana penuh permainan, tak terhitunh jumlah games yang dimainkan baik yang datang dari Fasilitator maupun yang muncul atas inisiatif peserta.

Warung Malaria
Mereka para peserta saling berbagi pengalaman tentang situasi Malaria di tempat mereka masing-masing, membicarakan tentang vektor dan epidemologi malaria dalam bahasa sehari hari. Menariknya, proses membedah situasi Malaria, Vektor dan Epidemologi Malaria memakai konsep Warung Malaria. 

Ini merupakan pengembangan dari konsep “Word Café” dimana setiap peserta melakukan diskusi kelompok terlebih dahulu, lalu masing-masing kelompok mengirimkan utusan mereka untuk melakukan kunjungan belajar ke kelompok lain (Warung) dan dua yang tersisa bertugas menjadi penjaga Warung. 



Peran penjaga warung adalah menjelaskan kepada tamu pengunjung tentang situasi Malaria di warung mereka (berbasis Kecamatan) sedangkan yang berkunjung bertugas membangun pertanyaan dan memberikan masukan. Inilah proses yang mengasyikan sebab semua peserta terlihat aktif terlibat dan PLA menemukan rohnya melalui model pendekatan ini.

Warung Malaria adalah model yang baru pertama kali dikembangkan untuk PLA dan disinilah uniknya PLA Malaria dimana seluruh metodologi proses selalu disesuaikan dengan konteks peserta, konteks masyarakat yang akan di intervensi sehingga pilihan metode satu lokasi dengan lokasi lainnya berbeda dan beragam. Disinilah titik ujian bagi fasilitator yang memfasilitasi seluruh rangkaian proses PLA ini.

Peserta tampak menyukai sekolah bersama ini, tak ada istilah medik yang digunakan, semua ditantang gunakan bahasa lokal, dialek lokal. Kemampuan peserta diukur bukan dari kehebatan mereka menghafal sejumlah kata ilmiah dan medik tetapi sejauhmana mereka mampu menerjemahkan hal hal yang “ruwet” itu lewat bahasa keseharian warga di tempat mereka bermukim dan bertugas. 

Saya lalu teringat ucapan anyar filsuf Lao Tze, “Datanglah ke tengah rakyat jelata, hiduplah bersama mereka, cintailah mereka, gunakan bahasa mereka, lakukan sesuatu dengan apa yang mereka tahu, bangunlah sesuatu dengan apa yang mereka punya, sebab pemimpin yang baik itu, ketika pekerjaan usai, rakyat dengan bangga mengatakan kami sendirilah yang selesaikan semua ini”
Hantu Itu Bernama Malaria
Sesekali mereka, para peserta itu saling berdebat demi sebuah jalan keluar terbaik, mereka lebih sering berada dalam kelompok, saling berbagi pengalaman, menyalin dan menggambar pengalaman mereka di atas lembar plano. Saat memasuki hari ketiga, seluruh peserta melakukan penelusuran desa. 

Saya ingat betul bagaimana suasana bathin saya pribadi di lapangan. Inilah tantangan yang sesungguhnya bagi fasilitator yang terlibat di masyarakat, kembali ujaran bijak seorang Lao Tze itu terngiang, “Datanglah ketengah warga, hiduplah bersama mereka…”

Di pinggang pantai itu, tengah terik mentari yang mengguyur, satu persatu warga berkumpul, berjejer melingkar, “Bapa mama kita duduk di bawah saja, ta usa korsi”, Ujar Sebastian, pemimpin kelompok Tiping, kelompok yang saya dampingi, “Begini bapa mama kami mau tanya bapa mama, tau tidak apa itu Malaria?” “Kami tau itu penyakit yang buat orang mati banyak disini” Jawab salah seorang Warga.  “Bapa tau tidak, gejala malaria” tambah Sebas. “Iya bapa kami tahu, kalo kena penyakit malaria, kepala sakit, ulu hati pedis, demam demam dan mual”  Warga serempak menjawab.

Perjalanan menelusuri dusun sungguh mengasyikan, banyak rawa rawa yang dijumpai. Saya semakin menyadari bahwa Malaria benar benar menjadi hantu yang menakutkan bagi warga semua kampung di Alor. Alor menjadi bagian dari wilayah di NTT yang termasuk tinggi angka kematian penduduk karena Malaria. Malaria berpotensi menular dan diderita warga yang hidup di daerah tropis dan sub tropis. 

Penularan penyakit malaria dari yang sakit kepada orang sehat, sebagian besar melalui gigitan nyamuk. Bibit penyakit dalam darah manusia dapat terhisap oleh nyamuk berkembang biak dalam tubuh nyamuk dan ditularkan kembali kepada orang sehat. Malaria menjadi  masalah kesehatan utama di  NTT, dimana penyakit ini masih  menjadi penyebab  kematian bagi bayi, balita dan ibu hamil serta dapat menurunkan produktifitas  tenaga kerja.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria yang meliputi kegiatan pencarian dan pengobatan penderita, pemberantasan vektor dan upaya perlindungan diri terhadap gigitan nyamuk melalui pemakaian kelambu berinsektisida. Namun pada kenyataannya angka kesakitan malaria di Provinsi  NTT  masih cukup tinggi.

Dilihat dari data Annual Malaria Incidence (AMI) NTT telah menunjukan kecenderungan menurun namun masih tetap tinggi di atas kebijakan Nasional (<50 ‰). Di tahun 2006, AMI NTT sebesar 145 %, tahun 2007 sebesar 119 %, dan tahun 2008 sebesar 83 %. Begitu pula angka Annual Parasite Incidence (API) sangat tinggi pada tahun 2008 sebesar 26 %, angka ini lebih dari 5 kali lipat di atas kebijakan Nasional (< 5 ‰). Kerugian Ekonomi karena Malaria di Provinsi NTT tahun 2006 sebesar Rp. 96.184.423.946, tahun 2007 sebesar Rp. 83.309.364.397,- dan tahun 2008 sebesar  Rp. 59.661.768.825 (hasil perhitungan dengan formula Prof. DR. Ascobat Gani, MPH), angka ini cukup besar.

Banyak faktor yang diduga menjadi  penyebab lambannya penurunan angka kesakitan malaria di NTT yang dikategorikan sebagai faktor teknis dan non-teknis. Faktor teknis terkait banyaknya jenis vektor malaria di NTT dan tingginya angka kepadatan vektor. 

Kondisi alam dan cuaca (curah hujan, kelembaban, suhu) yang optimal yang mendukung perkembangan vektor serta didukung dengan banyaknya tempat-tempat perkembang-biakan vektor di NTT; kurang akurat  dan validnya  data epidemiologi, entomologi, parasitologi  dan  perilaku penduduk sebagai informasi  dalam  intervensi. Sementara faktor non-teknis meliputi faktor tingkat keterlibatan masyarakat dalam upaya-upaya pemberantasan sarang nyamuk, tindakan pencarian pengobatan pada saat sakit termasuk di dalamnya kepatuhan minum obat malaria.

Permasalahan lain yang juga merupakan penyebab lambannya penurunan angka kesakitan malaria di NTT adalah posisi masyarakat yang selama ini ditempatkan hanya sebagai obyek dan pasif dalam berbagai upaya pemberantasan penyakit malaria di NTT. Untuk itulah pelatihan ini menekankan pentingnya memberi peran yang lebih aktif kepada Masyarakat. Untuk itulah maka seluruh peserta mesti mengetahui dan memerankan diri mereka bukan sebagai Narasumber, bukan sebagai Pengamat, bukan sebagai Penyuluh lapangan tetapi sebagai Fasilitator.

Saya sedikit membagi pengetahuan saya tentang prinsip dan nilai dasar yang harus dimiliki seorang Fasilitator, tekhnik membangun pertanyaan, menyimak, mendengar dan melakukan paraprashing. 

“Seorang fasilitator itu harus banyak membangun pertanyaan, menyimak, mendengar dan memberi kesempatan yang seluas-luasnya bagi warga untuk berbicara dengan bahasa mereka. Fasilitator harus mampu menjadi pembangkit energi kelompok melalui berbagai cara pendekatan yang kreatif. Fasilitator itu pemudah cara dan harus sepenuh hati menjalankan peran ini dengan seoptimal mungkin mengajak peran serta aktif warga yang didampinginya. Fasilitator harus ada bersama warga” Demikian untaian kalimat saya kala itu, ketika berbicara dengan semua peserta.

Disinilah nilai penting dari PLA yang konsen untuk menumbuhkembangkan keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pengendalian malaria di daerah dan lingkungan masing-masing mulai dari tahap mengenali permasalahan malaria di lingkungannya, mengidentifikasi sumber daya yang ada berkaitan dengan upaya pengendalian malaria termasuk kemungkinan pemanfaatan sumber daya tersebut, menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan upaya pengendalian malaria secara aktif sesuai kondisi lingkungan di daerah masing-masing, serta mampu pula mengevaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan secara mandiri.
Hanya Rindu Ngiang Dorakado
Tak terasa pelatihan PLA selama empat hari itupun berakhir. Kini mata saya terpaku membaca Mali, plangdorakado, “Dilakabahi kota kenariku rindukan hariku..”. 

Kenangan terserak dalam benak tentang mereka yang datang dari tempat yang jauh, teluk elok, sup ikan gurih serta kisah tak terlupa di aula kota Kalabahi. Sambil mengusap keringat dan lengket debu dijidat, kaki saya meniti turuni tangga-tangga baja, gemuruh baling-baling sekejab senyap. 

Dari tempat yang jauh masih jelas terngiang ucapan para peserta, “Nyamuk dari rawa –rawa itu jangan hanya dikebas, kalau ada Nyamuk, lebe bae dibunuh mati sa” bercat putih bandara itu, waktu sungguh berlari. FARIS VALERYAN WANGGE