
KESEHATAN IBU ANAK - Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menjadi Kabupaten yang paling banyak menyumbang angka kematian ibu anak di NTT berdasarkan data dari AIPMNH. Tulisan dibawah ini adalah refleksi kecil tentang kondisi KIA TTS yang memprihatinkan. Selamat membaca !!
***
Kota Dingin Di Tanah Timor`
Everithing You Go Always. Setiap Kali Kau Selalu Pergi. Syair lagu inilah yang kini sedang menemani perjalanan kami. Catatan ini saya tulis dalam Kijang Grand keluaran 1995, yang tengah melaju cepat menuju Soe. Laju kendaraan ini tak sanggup menginterupsi hasrat saya untuk berbagi dengan anda, walau memang sesekali saya harus mengingatkan Robertlamanepa, kawan seperjalanan saya, agar mengurangi kecepatan mobilnya.
Memasuki jembatan Noelmina, sejenak saya menoleh ke barat, lalu ucapkan salam perpisahan pada Kupang. Saatnya berlari ke arah bukit. Jembatan Noelmina menjadi pintu perbatasan Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan Kabupaten Kupang, dan setelah jembatan ini perjalanan sebenarnya menuju Soe dimulai. Soe ada di ketinggian bukit, jauh dari laut.. .
Dari Kotamadya Kupang menuju Soe, kami harus melewati Kabupaten Kupang. Jarak tempuhnya 110 Kilometer per 120 menit parjalanan. Posisi Soe yang berada di bukit meletakan situasi alam wilayah ini kontras dengan Kota-kota lain di daratan Pulau Timor. Pulau Timor yang identik dengan temperatur udara yang panas “terpatahkan” jika anda telah berada di Kota ini. Soe sebuah kota yang beku. Maka, pastikan membawa jaket yang tebal, jika ingin lama berbetah di Soe.
Tak hanya Soe, di Nusa Tenggara Timur, ada dua Kota lain yang memiliki temperatur suhu yang nyaris sama, keduanya ada di Pulau Flores yakni Kota Bajawa di Kabupaten Ngada dan Kota Ruteng di Kabupaten Manggarai.
Tiga kota ini seringkali diperbandingkan, terutama tentang suhu dan temperatur udaranya. Di Pulau Bali pengalaman serupa, bisa diperoleh di Bedugul Kabupaten Tabanan, sedangkan di Pulau Jawa, ada Kota Bogor. Tapi ketika mengunjungi Soe, saya justru bergumam sendiri, “ahh, Kota ini jauh lebih membeku dari Bedugul”, padahal saya sama sekali tak tahu berapa derajat Celcius perbandingannya.
Tragedi Dari Ketinggian Bukit
Menembus kegelapan hutan yang sepi pada malam ini adalah perjalanan bathin yang menggetarkan. Kami seolah sedang bergegas tinggalkan kepenatan panas Kupang, menuju ketenangan sejuk Soe. Lantas apakah Soe yang sejuk berikan ruang yang tentram bagi kehidupan yang ada di dalamnya?
Sesungguhnya di balik sejuk Soe, terpendam soal besar yang menggelisahkan. Kota yang kami kunjungi ini adalah ibukota dari sebuah Kabupaten penyumbang angka kematian Ibu Anak tertinggi di Nusa Tenggara Timur.
Soe pada tahun 2009, menyumbang 45 jiwa perempuan. Mereka merengang nyawa, mati dalam kesunyian. Lantas bagaimana trend di tengah tahun ini, 2010? Saya lalu membolak-balikan catatan, fantastis, jumlah kematian Ibu kini mencapai angka 25 jiwa. Bukankah, gembar-gembor Revolusi KIA telah cukup lama di dengungkan? Apa yang dilakukan aparatus Negara dengan berbekal Pergub NTT diatas? Adakah yang tahu jawabannya? Kematian itu urusan Tuhan, demikian ucap kaum Agamawan jika pertanyaan ini diajukan. Apakah Tuhan setega ini, membiarkan puluhan Ibu-Ibu, mati sia-sia tanpa upaya apapun menolong mereka.
Di tengah kencang laju Kijang Merah yang warnanya mulai pudar ini, saya teringat sejumput cukilan kalimat Mukti Wibawa, sahabat Facebook saya, “Tuhan yang merencanakan. Kitalah yang menentukan”, ujarnya. Ucapan ini membalikan paradigma lain, “Kita merencanakan. Tuhanlah yang menentukan” Saya bersepakat dengan sahabat Mukti, kematian karena kekurangan asupan gizi; buruknya tata kelola pelayanan dan seabrek Human Erorr lainnya selalu dibawa pada pembenaran tentang Tuhan yang Maha Penentu, ini tak fair. .
Roda yang berderek diatas jejer-jejer putih mistar jalan berkelok menuju Soe, pikiran saya bercampur seribu tanya yang menggantung serta sejuta hasrat yang meluap. Dan ketika si Merah berlabuh, syair lagu berubah gagu,. “Mengapa setiap kali kau selalu pergi! Why, Everithing You Go Always. FARIS VALERYAN WANGGE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar