PLA MALARIA I - Di pertengahan tahun 2010, tepatnya tanggal 12-15 Juli 2010 berlangsung Pelatihan Partisipatif Learning Action (PLA) untuk Fasilitator Malaria tingkat Kabupaten di NTT.
PENALAHATI NTT dipercayakan menjadi Trainer dan Fasilitator dalam kegiatan ini. Pelatihan ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Kabupaten Alor dan Kabupaten Sumba Barat, selain utusan dari Dinas Kesehatan terlibat juga pegiat LSM, Tokoh Agama serta Tokoh Masyarakat.
Tulisan ini mengungkap sisi penting Pelatihan PLA tahap 1 tersebut oleh dr Emi Ndoen, perwakilan UNICEF NTT. Selamat membaca!
***
"KAMI lelah digurui dan tidak diajak bicara. Kami lelah diberi tanpa ditanya apa yang kami butuhkan. Jangan tersinggung, kami mengerti maksud baik Anda untuk membantu kami. Kami menghargai semua yang Anda coba lakukan untuk kami, akan tetapi Anda belum mengenal kami sepenuhnya.
Anda belum cukup menghargai apa yang kami tahu, keahlian kami, budaya kami dan cara yang kami tempuh untuk menolong diri kami sendiri."
Paragraf di atas merupakan kutipan paragraph pembuka dari buku panduan Participatory Learning & Action (PLA) untuk pemberantasan malaria berbasis masyarakat. Paragraf tersebut merupakan ungkapan hati masyarakat yang selama ini selalu dijejali dengan berbagai program tanpa pernah ditanya apa kebutuhan mereka.
Tulisan ini merupakan suatu refleksi atas pembelajaran yang saya dapat selama tiga hari terlibat dalam kegiatan pelatihan PLA bagi fasilitator malaria dalam rangka pengembangan gerakan pemberantasan malaria berbasis masyarakat di Kupang baru-baru ini.
Participatory Learning & Action (PLA) atau saya sebut di sini sebagai Pembelajaran dan Tindakan Partisipatif (PTP) merupakan suatu metode penggerakan masyarakat yang berbasis pada tindakan pembelajaran partisipatif. PTP bukan suatu metode atau barang baru tapi pada dasarnya adalah suatu metode lama dengan kemasan atau baju yang baru.
Saya tertarik untuk membagi pengalaman ini karena untuk pertama kalinya saya mengalami sendiri suatu proses pelatihan pemberantasan penyakit tanpa kuatir tentang bahasa medis, istilah teknis, nama-nama obat yang membuat pusing kepala dan juga slogan-slogan kesehatan yang mengawan-awan.
Pelatihan PTP kali ini begitu membumi, meninggalkan semua pakem-pakem pelatihan yang selalu terstruktur. PTP menggunakan metode "tanpa metode". PTP dimulai dengan apa yang dipunyai peserta, berproses bersama peserta dan menghasilkan produk akhir yang dimiliki bersama oleh para peserta dan fasilitator.
PTP ini berawal dari suatu pemikiran untuk mengubah paradigma metode pemberantasan penyakit, dalam hal ini penyakti malaria, yang selama ini selalu menempatkan masyarakat sebagai obyek dan sasaran program tanpa diberikan kesempatan atau peran yang cukup sebagai subyek untuk menolong diri mereka sendiri.
PTP lahir dari suatu kesadaran dimana selama ini para pengelola program, donor dan organisasi selalu "lebih mudah bicara tapi sulit mendengar". Masyarakat dipersepsikan sebagai kelompok yang lemah dan tidak tahu apa-apa tentang kondisi dan kebutuhan mereka.
Akibat dari persepsi lama tersebut, masyarakat kemudian berpendapat, "Kami selalu mendengar teori-teori ... kami kerap mendengar janji-janji ... tapi akhirnya hanya kesunyian ... kami tetap jadi korban ...kami tetap jadi obyek". Bukankah kita semua diberikan hanya satu mulut dan dua telinga? Ini berarti, kita sebagai pengelolah program seharusnya lebih banyak mendengar masyarakat daripadi berbicara kepada mereka. Kita harus lebih banyak bertanya apa yang mereka rasakan daripada mereka-reka perasaan dan kebutuhan mereka. Kita harus lebih banyak mendengar, menghormati dan beradaptasi dengan mereka.
Proses pelatihan PTP ini begitu sederhana dan mengalir mengikuti suasana dan dinamika peserta. Proses PTP ini berusaha mengarahkan para peserta agar nantinya di lapangan mereka dapat melakukan "pertukaran ide yang adil dan terbuka dengan masyarakat".
Sebagian besar materi pelatihan dikemas dalam bentuk permainan, tarian, puisi, lagu dan juga praktek. Peserta dibawa untuk menghayati perannya sebagai masyarakat dan berkomunikasi dengan cara masyarakat. Semua permainan dibuat bermakna. Lagu dan tarian daerah digunakan untuk membawa pesan-pesan malaria. Dengan cara ini peserta diharapkan tidak hanya "mati ketawa" dengan permainan, lagu dan tarian yang ada tapi bisa menerima materi pelatihan yang diberikan dengan cara yang lebih partisipatis. Tidak ada kesan menggurui. Yang ada hanyalah sharing berbagi pengalaman dan pengetahuan antara peserta.
Bidang putih yang diabaikan
Banyak pelajaran yang diambil dari pengalaman para fasilitator. Penala eNTiTy (Penalahati NTT red) dan Yan Ghewa, seorang fasilitator senior yang berkontribusi dalam pelatihan ini berhasil membuka cakrawala perpikir peserta untuk lebih berpikir positif dengan metode-metode sederhana.
Dalam sebuah permainan, dengan hanya berbekal sehelai kertas putih dengan gambar "titik hitam" di tengah kertas, peserta diajak mencoba mendeskripsikan apa persepsi mereka tentang masyarakat. Hampir seluruh peserta lebih memusatkan perhatiaannya pada titik hitam di tengah kertas dan lupa akan bidang putih yang lebih besar. Pelajaran yang didapat dari permainan ini adalah banyak hal kita juga lebih mudah untuk melihat kelemahan dan ketidakberdayaan masyarakat dan melupakan potensi besar yang mereka punyai. Kita terpaku pada setitik noda hitam di tengah kertas dan lupa akan potensi besar masyarakat diwakili oleh bidang putih yang lebih besar.
Metode "Batik dan Sabun"
Dalam sebuah studi kasus, Yan Ghewa menceritakan tentang bagaimana sebuah proyek perpipaan dan bak penampung air di suatu desa di Sumatra hampir gagal hanya karena masyarakat terlalu "dimanjakan" oleh pengelola proyek. Masyarakat akhirnya berhasil disadarkan hanya dengan cerita tentang sebuah baju batik dan sabun. Jika seseorang diberikan hadiah baju batik, setelah sekian lama dipakai akan kotor dan bernoda. Apakah sipemberi hadiah harus menyediakan sabun bagi orang yang menerima hadiah?
Dengan pertanyaan "apakah sabun juga harus disediakan oleh pemberi hadiah?" ternyata berhasil menggugah martabat masyarakat. Masyarakat mau berkontribusi dalam proyek dimaksud karena tidak ingin martabatnya dinodai. Mereka tidak ingin dianggap tidak mampu dan tidak mempunyai apa-apa untuk menolong diri mereka sendiri. Paradigma sebagai spesialis penerima bantuan berubah. Masyarakat melupakan daftar panjang "shopping list" bantuan yang sudah disiapkan sebelumnya dan membuat daftar baru kontribusi mereka untuk menolong diri sendiri.
Metode "Diam dan menahan diri"
Proses membangun partisipasi masyarakat tidak segampang membalikkan telapak tangan. Masyarakat punya banyak kekuatan, keahlian dan sumber daya. Namun seorang fasilitator harus sabar, butuh seni dan kreativitas tinggi untuk membangkit kemampuan dan kesadaran masyarakat. Seorang fasilitator harus mampu berdiam dan menahan diri dalam menggali masalah dan potensi masyarakat. Sedikit bicara dan perbanyak mendengar. Biarkan masyarakat datang dan menceritakan apa yang mereka rasakan. Banyak bertanya dan sabar mendengar akan membuat kita menemukan permasalahan dan solusi terhadap persoalan mereka.
Metode "tanpa metode"
"Jangan percaya saya" tapi percayalah pada apa yang Anda punyai. Slogan di atas bisa jadi merupakan take home message dari tiga hari pelatihan tersebut. Pelatihan yang tidak terikat oleh metode yang baku. Pelatihan yang tidak menggurui dan berteori. Sebuah contoh partisipasi aktif berhasil dimunculkan. Sebuah tindakan partisipasi dalam proses pembelajaran yang menggunakan metode "tanpa metode".
Jangan percaya pada semua omongan fasilitator. Jangan percaya pada omongan para pendamping. Tapi ajaklah masyarakat merasakan apa yang menjadi permasalahannya. Berilah waktu dan ruang buat mereka untuk menemukan metode mereka sendri. Metode "tanpa metode" adalah salah satu pendekatan partisipatif yang bisa mulai dipraktek. Pembelajaran dan tindakan partisipatif harus dimulai sejak proses pelatihan dan baru akan berakhir pada saat masyarakat ikut berpartisipasi.
Pada akhirnya diskusi tentang malaria tidak sebatas nyamuk-parasit-plasmodium-orang sakit dan obat. Ternyata malaria bisa juga didiskusikan di luar kamar praktek dokter - perawat - bidan - dan petugas laboratorium. Pelatihan PTP ini membuktikan malaria bisa menjadi media untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat; bukan hanya untuk memberantas malaria tapi untuk semua kegiatan pemberdayaan dan pembangunan berbasis masyarakat. Semoga! ERMI NDOEN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar