ENTERPRENEURSHIP-Catatan ini dibuat dengan menggunakan gaya tutur khas“warga Kupang”. Sebuah catatan tentang impian sederhana dari pegiat PENALAHATI NTT membangun "Sekolah Enterpreneurship" di Nusa Tenggara Timur. Selamat membaca !!
***
Ternyata Guru bisnis banyak betul di Entete (Propinsi Nusa Tenggara Timur). Mereka umumnya ada di sudut-sudut pasar, ada di pinggang-pinggang jalan (Pedagang Kecil). Kita biasa panggil mereka Papalele ato Mamalele. Bila para Guru luar biasa ini, kita minta bercerita (Sharing) tentang “Pengalaman Terbaik” (Apreciative Inquiri Method) , dengan cara yang tepat (Teknik), dengan pertanyaan yang pas (Probing), maka yakin dan percayalah, “ Untuk apa pi sekolah jau-jau, dari mareka kita su bisa banyak dapa Ilmu Bisnis (Basis Pengalaman).
Ada kawan kasi komentar begini, "Ama untuk apa sekolah basar-basar, buang uang banyak-banyak, ternyata wakto pulang, ujungnya pisorong diri jadi Pe En Es (Pegawai Negri Sipil), yang jika sonde kuat Iman, saban waktu berubah jadi tukang pancuri (Koruptor). Kalo ada isu pemakaran wilayah samua rame-rame mendukung, biar kalo ada Kabupaten baru, ada peluang tenaga baru Pemerintah butuh (Desentralisasi). Sebaiknya Pemerintah mulai pikirkan dan bangun Sekolah Teknologi Kreatif, biar otak kanan su mulai bermain, jangan otak kiri terus.
Mereka para Guru kehidupan ini saban nanti, kita mo ajak bakumpul, bacarita-carita (Sharing) tentang pengalaman tarbaik mereka di Rumah Dialog. Kita biasa bilang pangalaman setiap orang itu aset (Aset Based). Dorang punya banyak pangalaman hebat yang bisa kita petik (Reframing).
Mereka guru-guru hebat alumnus Sekolah Kehidupan (Pengalaman) yang punya kemauan besar untuk jaga dong pung hidup (Martabat). Dorang punya cara atur uang (Managemen). Dorang ju dianggap orang-orang pinggiran (Kaum Marginal). Berjualan di emper emper pasar, bakalilling (Sales) dengan penghasilan yang sonde jelas.
Dalam dialog dengan beberapa kawan tentang semangat wirausaha, solusinya lagi-lagi ini semua tanggung jawab Negara (HAM Ekosob). Ya. Betul semua, orang yang mengerti tidak bantah itu. Negara punya kewajiban untuk urusan periuk nasi warganya. Tapi, kita mo kasi ilustrasi begini, " Kalo Papalele dong tunggu Negara bantu, pasti dong su mati jao jao hari. Sementara Pemarintah dong sibuk omong anggaran (APBD), pake istilah tinggi-tinggi yang Bapa ma dorang Sonde mengerti (Rezim Komunikasi).
Kita mo ajak para Guru hebat ini, biar anak-anak muda (Young) bisa belajar dari pengalaman mereka. Biar bisa jadi ulet dan sonde malu kerja seperti mereka (Militan). Setelah itu kita padukan model bisnis kontemporer yang maju seperti di Singapura dengan Kearifan Local (Local Wisdom) seperti apa yang sudah di praktekkan oleh mereka.
Bahasa tingginya NTT School for Entrepreneurship (Sekolah untuk Wirausaha). Membangun konsep sederhana dengan memetik pengalaman terbaik Papalele lalu dipadukan dengan Strategi Bisnis Kontemporer (Kolaborasi). Untuk anak muda di Entete, sekolah ini cocok untuk di jalankan.
Mimpinya biar kelak waktu Entete bisa maju seperti Negara Singapura dimana Wirausaha menjadi kegandrungan utama orang-orang disana dan tumpuan (fondasi) terbaik bangunan (Konstruksi) ekonomi Negara termaju di Asia Tenggara. FARIS VALERYAN WANGGE
Ada kawan kasi komentar begini, "Ama untuk apa sekolah basar-basar, buang uang banyak-banyak, ternyata wakto pulang, ujungnya pisorong diri jadi Pe En Es (Pegawai Negri Sipil), yang jika sonde kuat Iman, saban waktu berubah jadi tukang pancuri (Koruptor). Kalo ada isu pemakaran wilayah samua rame-rame mendukung, biar kalo ada Kabupaten baru, ada peluang tenaga baru Pemerintah butuh (Desentralisasi). Sebaiknya Pemerintah mulai pikirkan dan bangun Sekolah Teknologi Kreatif, biar otak kanan su mulai bermain, jangan otak kiri terus.
Mereka para Guru kehidupan ini saban nanti, kita mo ajak bakumpul, bacarita-carita (Sharing) tentang pengalaman tarbaik mereka di Rumah Dialog. Kita biasa bilang pangalaman setiap orang itu aset (Aset Based). Dorang punya banyak pangalaman hebat yang bisa kita petik (Reframing).
Mereka guru-guru hebat alumnus Sekolah Kehidupan (Pengalaman) yang punya kemauan besar untuk jaga dong pung hidup (Martabat). Dorang punya cara atur uang (Managemen). Dorang ju dianggap orang-orang pinggiran (Kaum Marginal). Berjualan di emper emper pasar, bakalilling (Sales) dengan penghasilan yang sonde jelas.
Dalam dialog dengan beberapa kawan tentang semangat wirausaha, solusinya lagi-lagi ini semua tanggung jawab Negara (HAM Ekosob). Ya. Betul semua, orang yang mengerti tidak bantah itu. Negara punya kewajiban untuk urusan periuk nasi warganya. Tapi, kita mo kasi ilustrasi begini, " Kalo Papalele dong tunggu Negara bantu, pasti dong su mati jao jao hari. Sementara Pemarintah dong sibuk omong anggaran (APBD), pake istilah tinggi-tinggi yang Bapa ma dorang Sonde mengerti (Rezim Komunikasi).
Kita mo ajak para Guru hebat ini, biar anak-anak muda (Young) bisa belajar dari pengalaman mereka. Biar bisa jadi ulet dan sonde malu kerja seperti mereka (Militan). Setelah itu kita padukan model bisnis kontemporer yang maju seperti di Singapura dengan Kearifan Local (Local Wisdom) seperti apa yang sudah di praktekkan oleh mereka.
Bahasa tingginya NTT School for Entrepreneurship (Sekolah untuk Wirausaha). Membangun konsep sederhana dengan memetik pengalaman terbaik Papalele lalu dipadukan dengan Strategi Bisnis Kontemporer (Kolaborasi). Untuk anak muda di Entete, sekolah ini cocok untuk di jalankan.
Mimpinya biar kelak waktu Entete bisa maju seperti Negara Singapura dimana Wirausaha menjadi kegandrungan utama orang-orang disana dan tumpuan (fondasi) terbaik bangunan (Konstruksi) ekonomi Negara termaju di Asia Tenggara. FARIS VALERYAN WANGGE

Tidak ada komentar:
Posting Komentar