Selasa, 14 Desember 2010

MEMBERANTAS MALARIA DI PULAU ALOR

PLA MALARIA II- Tim PENALAHATI NTT pada tanggal 19-22 Oktober 2010 memfasilitasi pelatihan PLA Malaria tingkat Kecamatan di Kabupaten Alor, NTT. Pelatihan ini di ikuti oleh peserta Multipihak. Tulisan ini bercerita tentang situasi dan proses yang terjadi dalam kegiatan yang terselenggara atas dukungan UNICEF dan Dinas Kesehatan Kabupaten Alor. Selamat membaca !!


***
Dua pekan lalu saya dan seorang sahabat, menjejakan kaki di Pulau Alor. Setelah meniti tanah Mali yang elok, oto ambulance tua yang menjemput itu mengantar kami menuju penginapan Nurfitri Betlang persis di Teluk Mutiara pinggang kota Kalabahi. 

Disini saya lalui waktu untuk bekerja selama sepekan sembari melepas penat dari riuhnya Kota Kupang. Saat senja mulai beranjak seluruh lautan yang membentang di teluk itu, tak puas-puasnya saya nikmati, sungguh Agung Karya Sang Pencipta. Suasana disini begitu tenang tanpa hingar bingar musik dan panas yang melengket di baju.  Alor, sebuah Kabupaten otonom di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Datang Dari Tempat Yang Jauh
 “Ina bobo oo ina bobo, kalo tidak bobo, digigit nyamuk.”,  sontak gelak tawa menggelegar. Hari itu, Selasa 19 Oktober 2010, seluruh aktivitas mulai dilangsungkan bertajuk Partisipatory Learning Action (PLA) untuk calon Fasilitator Malaria tingkat Kecamatan di Kabupaten Alor. Pelatihan yang digagas Dinkes Alor ini merupakan salah satu model pelatihan yang belum lama ini di kembangkan Unicef. 

Unicef yang konsen terhadap upaya pemberantasan penyakit malaria, sudah sejak tahun 2008 mengembangkan pendekatan “Participatory Learning Action”, dimana sebagai upaya memberantas penyakit malaria berbasis masyarakat. Pendekatan PLA ini telah berhasil di berbagai daerah seperti di Halmahera Selatan, Maluku Utara, di Jayapura, Papua serta Nangroe Aceh Darusalam. 

Keberhasilan pendekatan PLA inipun sudah diakui Bappenas dan Kemenkes RI, bahkan telah diadopsi oleh beberapa negara sebagai salah satu program unggulan dalam upaya pemberantasan malaria.  PLA yang dipandang berhasil itu, kini diterapkan di NTT. NTT dipilih karena Provinsi ini menjadi salah satu wilayah endemik Malaria di Indonesia.

Dalam proses perkenalan kelompok ungkapan-ungkapan baru dan kreatif muncul dari peserta,“Kami datang dari Manaseli. Manaseli artinya tempat yang jauh. Di manaseli, warga kami banyak demam dan mati dimangsa Tiping. Tiping itu Nyamuk, jadi kalau bertemu nyamuk jangan hanya di kebas tapi dibunuh mati. Bakal tiping biasa hidup di rawa-rawa”  

Peserta PLA Alor umumnya warga masyarakat biasa dan beberapa dari mereka ada yang berprofesi sebagai Kepala Puskesmas dan Bidan. Mereka kaum biasa dari kampung yang jauh, ada yang datang dari Pulau Pantar, Maritaing, Alor Timur, Kelona Utara, Bukapiting, Alor Timur Laut, Kokar, Alor Barat Laut, Meubung, Famalabang hingga Moru. Sebagian besar berasal dari kampung kampung di balik bukit Kalabahi, jumlah mereka yang terlibat empat puluh delapan orang.  

Sebagian dari mereka datang dengan menumpang kapal motor, oto bis. Di kalabahi kisah kebersamaan itu terjadi. Lima kelompok terbagi habis ada Manaseli, Tiping, Demam, Jentik dan Rawa-rawa. “Tiping dalam salah satu bahasa lokal di Pulau Alor berarti Nyamuk. Jentik nyamuk umumnya hidup di Rawa-Rawa dan dari rawa rawa tiping dewasa terbang leluasa, mereka seperti drakula mengisap darah darah warga”  Demikian kelompok Tiping memperkenalkan diri.

Semula peserta menganggap PLA mirip seperti pelatihan yang sudah pernah mereka ikuti yang penuh ceramah, istilah-istilah asing dan tentu saja membosankan. Ternyata, asumsi ini terpatahka, PLA sungguh jauh berbeda, ini lebih dari sekedar pelatihan. PLA lebih mirip Sekolah Belajar Bersama. Seluruh peserta menjadi juru bicara untuk dirinya karena masing-masing pribdai memiliki pengalaman terbaik, unik yang tak dimiliki peserta lain. Semua peserta menjadi Narasumber. 

PLA sendiri memiliki beberapa ciri unggulan dimana peserta diajak untuk melakukan pemetaan tubuh (body mapping), village mapping (pemetaan kampung), transec walk (penelusuran desa), menyusun kalender musim, membuat kalender malaria dan merancang tindak lanjut melalui laporan kelompok pasca kunjungan lapangan. Semua ini dipelajari dan dikerjakan dalam suasana penuh permainan, tak terhitunh jumlah games yang dimainkan baik yang datang dari Fasilitator maupun yang muncul atas inisiatif peserta.

Warung Malaria
Mereka para peserta saling berbagi pengalaman tentang situasi Malaria di tempat mereka masing-masing, membicarakan tentang vektor dan epidemologi malaria dalam bahasa sehari hari. Menariknya, proses membedah situasi Malaria, Vektor dan Epidemologi Malaria memakai konsep Warung Malaria. 

Ini merupakan pengembangan dari konsep “Word CafĂ©” dimana setiap peserta melakukan diskusi kelompok terlebih dahulu, lalu masing-masing kelompok mengirimkan utusan mereka untuk melakukan kunjungan belajar ke kelompok lain (Warung) dan dua yang tersisa bertugas menjadi penjaga Warung. 



Peran penjaga warung adalah menjelaskan kepada tamu pengunjung tentang situasi Malaria di warung mereka (berbasis Kecamatan) sedangkan yang berkunjung bertugas membangun pertanyaan dan memberikan masukan. Inilah proses yang mengasyikan sebab semua peserta terlihat aktif terlibat dan PLA menemukan rohnya melalui model pendekatan ini.

Warung Malaria adalah model yang baru pertama kali dikembangkan untuk PLA dan disinilah uniknya PLA Malaria dimana seluruh metodologi proses selalu disesuaikan dengan konteks peserta, konteks masyarakat yang akan di intervensi sehingga pilihan metode satu lokasi dengan lokasi lainnya berbeda dan beragam. Disinilah titik ujian bagi fasilitator yang memfasilitasi seluruh rangkaian proses PLA ini.

Peserta tampak menyukai sekolah bersama ini, tak ada istilah medik yang digunakan, semua ditantang gunakan bahasa lokal, dialek lokal. Kemampuan peserta diukur bukan dari kehebatan mereka menghafal sejumlah kata ilmiah dan medik tetapi sejauhmana mereka mampu menerjemahkan hal hal yang “ruwet” itu lewat bahasa keseharian warga di tempat mereka bermukim dan bertugas. 

Saya lalu teringat ucapan anyar filsuf Lao Tze, “Datanglah ke tengah rakyat jelata, hiduplah bersama mereka, cintailah mereka, gunakan bahasa mereka, lakukan sesuatu dengan apa yang mereka tahu, bangunlah sesuatu dengan apa yang mereka punya, sebab pemimpin yang baik itu, ketika pekerjaan usai, rakyat dengan bangga mengatakan kami sendirilah yang selesaikan semua ini”
Hantu Itu Bernama Malaria
Sesekali mereka, para peserta itu saling berdebat demi sebuah jalan keluar terbaik, mereka lebih sering berada dalam kelompok, saling berbagi pengalaman, menyalin dan menggambar pengalaman mereka di atas lembar plano. Saat memasuki hari ketiga, seluruh peserta melakukan penelusuran desa. 

Saya ingat betul bagaimana suasana bathin saya pribadi di lapangan. Inilah tantangan yang sesungguhnya bagi fasilitator yang terlibat di masyarakat, kembali ujaran bijak seorang Lao Tze itu terngiang, “Datanglah ketengah warga, hiduplah bersama mereka…”

Di pinggang pantai itu, tengah terik mentari yang mengguyur, satu persatu warga berkumpul, berjejer melingkar, “Bapa mama kita duduk di bawah saja, ta usa korsi”, Ujar Sebastian, pemimpin kelompok Tiping, kelompok yang saya dampingi, “Begini bapa mama kami mau tanya bapa mama, tau tidak apa itu Malaria?” “Kami tau itu penyakit yang buat orang mati banyak disini” Jawab salah seorang Warga.  “Bapa tau tidak, gejala malaria” tambah Sebas. “Iya bapa kami tahu, kalo kena penyakit malaria, kepala sakit, ulu hati pedis, demam demam dan mual”  Warga serempak menjawab.

Perjalanan menelusuri dusun sungguh mengasyikan, banyak rawa rawa yang dijumpai. Saya semakin menyadari bahwa Malaria benar benar menjadi hantu yang menakutkan bagi warga semua kampung di Alor. Alor menjadi bagian dari wilayah di NTT yang termasuk tinggi angka kematian penduduk karena Malaria. Malaria berpotensi menular dan diderita warga yang hidup di daerah tropis dan sub tropis. 

Penularan penyakit malaria dari yang sakit kepada orang sehat, sebagian besar melalui gigitan nyamuk. Bibit penyakit dalam darah manusia dapat terhisap oleh nyamuk berkembang biak dalam tubuh nyamuk dan ditularkan kembali kepada orang sehat. Malaria menjadi  masalah kesehatan utama di  NTT, dimana penyakit ini masih  menjadi penyebab  kematian bagi bayi, balita dan ibu hamil serta dapat menurunkan produktifitas  tenaga kerja.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria yang meliputi kegiatan pencarian dan pengobatan penderita, pemberantasan vektor dan upaya perlindungan diri terhadap gigitan nyamuk melalui pemakaian kelambu berinsektisida. Namun pada kenyataannya angka kesakitan malaria di Provinsi  NTT  masih cukup tinggi.

Dilihat dari data Annual Malaria Incidence (AMI) NTT telah menunjukan kecenderungan menurun namun masih tetap tinggi di atas kebijakan Nasional (<50 ‰). Di tahun 2006, AMI NTT sebesar 145 %, tahun 2007 sebesar 119 %, dan tahun 2008 sebesar 83 %. Begitu pula angka Annual Parasite Incidence (API) sangat tinggi pada tahun 2008 sebesar 26 %, angka ini lebih dari 5 kali lipat di atas kebijakan Nasional (< 5 ‰). Kerugian Ekonomi karena Malaria di Provinsi NTT tahun 2006 sebesar Rp. 96.184.423.946, tahun 2007 sebesar Rp. 83.309.364.397,- dan tahun 2008 sebesar  Rp. 59.661.768.825 (hasil perhitungan dengan formula Prof. DR. Ascobat Gani, MPH), angka ini cukup besar.

Banyak faktor yang diduga menjadi  penyebab lambannya penurunan angka kesakitan malaria di NTT yang dikategorikan sebagai faktor teknis dan non-teknis. Faktor teknis terkait banyaknya jenis vektor malaria di NTT dan tingginya angka kepadatan vektor. 

Kondisi alam dan cuaca (curah hujan, kelembaban, suhu) yang optimal yang mendukung perkembangan vektor serta didukung dengan banyaknya tempat-tempat perkembang-biakan vektor di NTT; kurang akurat  dan validnya  data epidemiologi, entomologi, parasitologi  dan  perilaku penduduk sebagai informasi  dalam  intervensi. Sementara faktor non-teknis meliputi faktor tingkat keterlibatan masyarakat dalam upaya-upaya pemberantasan sarang nyamuk, tindakan pencarian pengobatan pada saat sakit termasuk di dalamnya kepatuhan minum obat malaria.

Permasalahan lain yang juga merupakan penyebab lambannya penurunan angka kesakitan malaria di NTT adalah posisi masyarakat yang selama ini ditempatkan hanya sebagai obyek dan pasif dalam berbagai upaya pemberantasan penyakit malaria di NTT. Untuk itulah pelatihan ini menekankan pentingnya memberi peran yang lebih aktif kepada Masyarakat. Untuk itulah maka seluruh peserta mesti mengetahui dan memerankan diri mereka bukan sebagai Narasumber, bukan sebagai Pengamat, bukan sebagai Penyuluh lapangan tetapi sebagai Fasilitator.

Saya sedikit membagi pengetahuan saya tentang prinsip dan nilai dasar yang harus dimiliki seorang Fasilitator, tekhnik membangun pertanyaan, menyimak, mendengar dan melakukan paraprashing. 

“Seorang fasilitator itu harus banyak membangun pertanyaan, menyimak, mendengar dan memberi kesempatan yang seluas-luasnya bagi warga untuk berbicara dengan bahasa mereka. Fasilitator harus mampu menjadi pembangkit energi kelompok melalui berbagai cara pendekatan yang kreatif. Fasilitator itu pemudah cara dan harus sepenuh hati menjalankan peran ini dengan seoptimal mungkin mengajak peran serta aktif warga yang didampinginya. Fasilitator harus ada bersama warga” Demikian untaian kalimat saya kala itu, ketika berbicara dengan semua peserta.

Disinilah nilai penting dari PLA yang konsen untuk menumbuhkembangkan keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pengendalian malaria di daerah dan lingkungan masing-masing mulai dari tahap mengenali permasalahan malaria di lingkungannya, mengidentifikasi sumber daya yang ada berkaitan dengan upaya pengendalian malaria termasuk kemungkinan pemanfaatan sumber daya tersebut, menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan upaya pengendalian malaria secara aktif sesuai kondisi lingkungan di daerah masing-masing, serta mampu pula mengevaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan secara mandiri.
Hanya Rindu Ngiang Dorakado
Tak terasa pelatihan PLA selama empat hari itupun berakhir. Kini mata saya terpaku membaca Mali, plangdorakado, “Dilakabahi kota kenariku rindukan hariku..”. 

Kenangan terserak dalam benak tentang mereka yang datang dari tempat yang jauh, teluk elok, sup ikan gurih serta kisah tak terlupa di aula kota Kalabahi. Sambil mengusap keringat dan lengket debu dijidat, kaki saya meniti turuni tangga-tangga baja, gemuruh baling-baling sekejab senyap. 

Dari tempat yang jauh masih jelas terngiang ucapan para peserta, “Nyamuk dari rawa –rawa itu jangan hanya dikebas, kalau ada Nyamuk, lebe bae dibunuh mati sa” bercat putih bandara itu, waktu sungguh berlari. FARIS VALERYAN WANGGE


Tidak ada komentar: