Kamis, 16 Desember 2010

KEMISKINAN DI TANAH TERBERKATI

ENTERPRENEURSHIP - Sebuah tulisan dari pegiat  dan pendiri PENALAHATI NUSANTARA mengenai aset lokal NTT yang luar biasa dan belum maksimal tergarap. Semoga tulisan ini mampu mencerahkan dan menggerakan pembaca sekalian untuk memerangi kemiskinan di tanah NTT, tanah yang terberkati. Selamat membaca!!

*** 
Selama dua minggu ini saya melintasi daratan Timor. Pikiran dan gagasan yang tumbuh setiap kali saya melihat potensi yang ada membuat saya gemas pada cerita kemiskinan di daratan Timor ini. Gemas karena ingat tulisan F. Rahardi di Flores Pos. Dia mengatakan, Nusa Tenggara Timur adalah tanah yang diberkati Tuhan. 

Mau tahu alasannya? “Di tanah NTT, ada tiga jenis tanaman palma terbaik yang menjadi komoditas perdagangan penting di dunia. Yakni, kelapa, lontar, dan aren (enau).”Dalam tulisannya itu, Rahardi mengungkapkan bagaimana produk-produk turunan dari tiga jenis tanaman itu menjadi incaran negara-negara di Eropa dan Amerika. Misalnya produk berbahan batang, daun, nira, serat, serabut, buah, hingga akar. 

Produk berbahan batang jelas sangat dibutuhkan untuk bahan bangunan dan furniture (pernahkah kita tahu bahwa batang lontar sangat kuat, keras dan tahan terhadap pelbagai cuaca?), daun mengasilkan produk untuk bahan bangunan (atap), kebutuhan rumah tangga (lidi, wadah), kerajinan dan kesenian. Sedangkan nira tidak cuma bisa diolah untuk menjadi minuman (tuak, arak, sopi, moke) tapi juga gula merah dan gula semut (negara di Eropa seperti Belanda dan Spanyol sangat membutuhkannya). 

Serat dan serabut tanaman palma sangat baik untuk bahan industri fiber, furniture dan otomotif (pernah tahu jok kursi mobil Ferari menggunakan serat dan serabut kelapa?). Sedangkan buah, banyak sekali kegunaannya, dari santan, virgin coconut oil, kolang kaling, kerajinan (tempurung) bahkan formalin alami untuk pengawetan daging dan ikan. Dalam sebuah penelitian terbaru, disebutkan ada lebih dari 127 produk yang bisa dihasilkan dari ketiga jenis tanaman palma ini. Semua produk itu merupakan komoditas penting perdagangan dunia. Malaysia sekarang yang paling agresif merebut pangsa pasar dengan melakukan berbagai komodifikasi produk berbahan baku tiga jenis tanaman palma itu.

Pernyataan bahwa NTT adalah tanah terberkati membuat mata saya aktif mencari potensi sumberdaya alam yang ada di sepanjang perjalanan Kota Kupang hingga Atambua, juga di setiap tempat yang saya singgahi kemudian. Dan memang, bukan hanya tiga jenis tanaman palma itu saja yang yang saya temukan tumbuh di mana-mana (tahukah Anda, tanaman lontar di NTT tidak pernah ditanam secara khusus, melainkan tumbuh begitu saja?). Saya melihat banyak semak indigo tumbuh di sepanjang jalan dan tanah kosong. Daun dari semak ini adalah bahan baku warna biru alami. Jika Anda pernah liat warna biru pada kain tenun ikat NTT atau warna biru pada keramik China, nah bahan bakunya berasal dari tanaman ini.

Di dunia, warna alami berbasis tanaman indigo sangatlah istimewa dan sangat dibutuhkan untuk industri tekstil. Di Jepang bahkan setiap tahunnya diselenggarakan Festival Indigo Internasional. Selain indigo, saya juga melihat banyak tanaman mengkudu (akarnya bahan baku warna merah) atau delima (kulit buah untuk warna kuning). Dibandingkan tanaman yang tumbuh di Pulau Jawa, kualitas warna yang dihasilkan dari tanah Timor dan NTT lainnya jauh lebih baik. Ini terutama kandungan air yang rendah akibat tanah kapur-karang dan musim kemarau yang panjang. Sayangnya, tanaman-tanaman ini tidak lagi terlalu diperhatikan.


Padahal kebutuhan dunia atas bahan pewarna organik sekarang ini sangat tinggi sekali dan pasokan yang ada tidak memadai (sekarang dikuasi China dan India). Di NTT sendiri, para pengrajin tenun dan tekstil sekarang ini lebih menengok pewarnaan sintetik yang merusak kesehatan dan lingkungan itu.

Itu baru tanaman pewarna. Sepanjang perjalanan mata saya juga melihat mete, mangga, kemiri, berbagai aneka jenis bambu, jagung, sorgum (tahukah Anda, kandungan bio-fuel pada batang sorgum bisa sampai 40%?), kapok randu, waru (di Bali ada desa di Kabupaten Klungkung yang khusus menanam pohon waru untuk kebutuhan perkakas perahu mereka karena kelenturan serat yang dimilikinya), jarak, jati, dan masih seabrek tanaman lainnya yang seperti berlarian dan menari menawarkan diri untuk menjawab persoalan kemiskinan di tanah purba itu. 


Seperti juga tanaman pewarna, mereka memiliki kualitas tinggi justru karena rendahnya kandungan air yang mereka miliki akibat tanah kering NTT. Sampai di sini, saya kerap bertanya pada diri sendiri, “Siapa bilang kering itu miskin?”

Sayang memang, saya tidak mendengar dan melihat pemanfaatan optimal dari tanaman-tanaman ini. Mangga yang berbuah melimpah pada musimnya sering tak terjual karena sistem distribusi yang buruk sehingga lebih banyak dijadikan makanan babi (saya jadi ingat perjalanan ke Lombok dan Malang, dimana buah diolah menjadi dodol, jeli, atau keripik dan menjadi komoditas oleh-oleh yang sangat menguntungkan). Kapas randu terbuang percuma begitu saja karena hanya sedikit yang mau menenun sekarang ini. 


Begitu pula bambu kering dan mati di rumpunnya, sorgum hanya dimanfaatkan bijinya (itu pun hanya untuk acara-acara tertentu saja, jagung dijual buah mentahan tanpa pernah mengolah produk-produk turunannya, baik biji maupun batangnya yang kaya minyak itu), begitu pula waru, kemiri dan alpukat dibiarkan berserakan dan busuk di tanah, atau dijual dengan harga murah saking berlimpahnya (tahukah Anda minyak kemiri dan minyak alpukat adalah bahan baku terpenting industri spa?). Semua terbuang percuma dan hanya menjadi bahan pemerkaya unsur hara tanah.

Saya sontak gembira saat mendengar ada komunitas di Soe dan pinggiran Kupang yang memanfaatkan hasil tanaman buah yang berlimpah untuk diolah menjadi minuman sari buah beralkohol ringan. Kami menyebutnya wine buah. Dengan menggunakan teknologi fermentasi sederhana, buah belimbing, pepaya, ginseng, dan pisang diubah menjadi minuman yang menyegarkan. Harganya Rp20.000 satu botol limun. Padahal, yang saya tahu, produk sejenis ini dijual di Bali dengan harga Rp200.000 per botol ukuran lebih besar sedikit. 


Sayangnya, mencari minuman ini bukan perkara gampang. Para produsen dan penjualnya tidak berani menjual terang-terangan karena sering disantroni dan ditangkap polisi karena dianggap menjual barang terlarang. Pemerintah daerah pun tidak melindungi dan meliriknya menjadi produk unggulan daerah. Ini sungguh mengenaskan. Bukannya mendorong agar produk-produk ini berkembang dan memiliki pasar yang luas (misalnya, membangun sistem produksi dan distribusi yang berstandar internasional), penguasa malah membrangusnya dan menganggapnya sebagai barang haram.

Sebagai pelancong, tentu saja saya mencintai kuliner lokal. Itu yang pertama saya cari setiap kali saya bertandang ke tanah NTT. Tapi, ini bukan perkara gampang. Di restoran-restoran yang saya singgahi sepanjang jalan, tak banyak makanan lokal yang dijual. Paling-paling, ikan bakar (dengan bumbu khas), sei (daging asap), jagung titi (keripik jagung), dendeng manis, sambal leo, dan cah daun pepaya. Saya juga tidak berhasil menemukan warung-warung atau tempat makan yang khusus menjual makanan lokal. 

Kalah dengan warung makanan Padang yang menguasai hampir di semua kota dan titik-titik persinggahan strategis. “Kalau mau makan seperti itu harus tunggu kalau ada upacara adat Pak. Kalau hari biasa, susah memang,”ujar Bapak Tius, pengemudi yang mengantarkan kami berkeliling di Kefamenanu. Sayang sekali. Padahal, lidah saya tak sabar merasakan sayur santan daun dadap muda, nasi bambu, perkedel ikan, jagung bose, lawar ikan, nasi jagung, lavan (daging bakar dicelup darah mentah), laku tobe (tumpeng ubi kayu dicampur parutan kelapa, dan gula merah), puta laka (sagu dicampur kacang hijau), mae tobe (tumpeng ubi hutan), laku pini (seperti gaplek dimakan dengan cara dicelupkan ke gula aer/aren), pen pasu (jagung kering dimasak campur kacang dan sayuran) dan lainnya.

Usaha saya untuk mendapatkannya di wilayah pedesaan pun tidak mendapatkan hasil. Padahal, saya pikir, di desa mestinya makanan-makanan khas akan lebih mudah didapatkan. Di beberapa rumah yang menyuguhkan makanan, bukannya mendapatkan makanan lokal, saya malah mendapatkan mie instan rebus. “Malu kami pak kalau menyuguhkan makanan kampung. Jadi, kami sediakan saja makanan kota ini.” Alamak, justru ‘makanan kampung’ itu yang saya cari.

Kawan seperjalanan saya, dr. Teda Littik, menceritakan bahwa sesungguhnya orang-orang Timor sangat gemar dan ahli dalam mengolah makanan. Kalau ada pesta-pesta di Kupang, dia kerap mendapati berbagai makanan olahan yang bervariasi dengan rasa yang enak sekali. “Sayangnya memang, kewirausahaan bukanlah kebiasaan masyarakat Timor. Berbeda dengan suku Minang atau Bugis yang sudah terlatih sejak kecil untuk berdagang,”ujar dokter yang saat ini bekerja sebagai konsultan di sebuah organisasi internasional ini.

Akan tetapi, tidak lantas masyarakat Timor melupakan potensi sumberdaya alam yang mereka miliki. Walaupun, sayangnya, bersifat ekstraktif. Lihat saja kegairahan yang muncul dimana-mana, dari Belu hingga Kupang, sekarang ini. Banyak anggota masyarakat yang menggali dan menambang mangan untuk dijual ke pedagang-pedagang dari luar Timor, baik dari Jawa maupun dari luar negeri seperti negeri China, dengan harga jual Rp1.000 hingga Rp1.300 per kg-nya. “Lumayan juga hasilnya, sehari bisa dapat satu kuintal, berarti Rp100.000,- sampai Rp130.000,”kata seorang penggali dengan bangganya.

Saya hanya tersenyum kecil menanggapi kegairahannya. Di kepala saya terpikir, berapa lama keuntungan itu bakal didapatkan, karena toh model usaha ekstraktif seperti ini tidak akan bersifat panjang. Karena begitu kandungan mangan di tanah habis, maka purna juga keuntungan yang didapatkan. Belum lagi potensi konflik yang mencuat, ditambah kehancuran lingkungan yang masif. Peraturan pemerintah pun bisa menjadi penghambat kelangsungan usaha. 


Seperti di Kabupaten Kupang misalnya, Bupati telah membuat larangan penambangan dan penjualan mangan karena akan membuat pabrik pengolahan agar keuntungan yang didapatkan bisa lebih berganda. Cerita-cerita pedih juga mengiringi kegairahan itu. Misalnya saja, beberapa waktu yang lalu ada seorang ibu yang sedang hamil meninggal dunia karena tertimpa runtuhan tanah galian ketika ia sedang menambang di lubang. Pendeknya, menyarikan banyak pendapat, pertambangan dan usaha penggalian mangan tidak menjawab persoalan kemiskinan yang menghimpit tanah Timor dan NTT. Lantas apa jawabannya?

Saya teringat apa yang dikatakan ir. Ciputra beberapa waktu yang lalu. Katanya, “Syarat sebuah negara untuk keluar dari kemiskinan dan meraih kesejahteraan adalah apabila 2% dari jumlah penduduknya adalah wirausahawan.” Saya mencoba berhitung. Jumlah penduduk di tanah Timor (di Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang) adalah 1.749.364 orang (BPS 2009). Maka, wirausahawan yang dibutuhkan di Tanah Timor agar keluar dari himpitan kemiskinan adalah 34.987 orang. Saat ini ada berapa wirausahawan di seluruh kawasan Timor? Tidak ada data yang pasti. Yang pasti, jauh lebih kecil dari prasyarat tersebut.

Pikiran saya berkelana sampai ke Bangladesh. Saya teringat pada usaha yang dilakukan oleh penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus. Untuk mengentaskan kemiskinan di negara tersebut, Yunus membangun program mikro-kredit dan bisnis sosial untuk para penduduk miskin. Hasilnya luar biasa. Dalam waktu 30 tahun, Yunus dan Bank Grameen berhasil menyalurkan kredit untuk 6,6 juta wirausahawan, yang terutama adalah kaum wanita dan orang miskin. Kenapa Yunus berkonsentrasi kepada orang miskin?

”Tidak ada perbedaan antara orang miskin dengan orang yang berada. Semua manusia diciptakan beserta potensi yang tak terbatas. Tak terkecuali orang miskin. Tetapi dunia di sekeliling mereka tidak pernah memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengetahui bahwa setiap orang dari mereka membawa bakat yang menakjubkan. Bakat tersebut masih tidak diketahui dan terbungkus. Tantangan kita adalah untuk menolong orang-orang miskin mengeluarkan bakatnya.” Begitu yang dikatakan Muhammad Yunus dalam Pidatonya saat menerima Hadiah Nobel Perdamaian.

Gagasan dan pikiran yang berkecamuk di kepala saya sering melahirkan mimpi di malam hari. Mimpi tentang anak-anak muda, kaum ibu dan lelaki yang menjadi para wirausahawan-wirausahawan tangguh di tanah Timor. Jumlahnya puluhan ribu dengan memproduksi berbagai produk (barang dan jasa) berbasis potensi lokal yang ada dan menjawab persoalan kemiskinan di tanah ini. Para pelaku ini kemudian juga melahirkan lembaga keuangan yang kuat dan menyokong pendanaan dan pengembangan usaha mereka, serta membangun berbagai pasar komoditi di mana-mana. 

Dalam mimpi saya melihat, orang-orang berdatangan. Dari Timor Leste, Papua, Maluku, Lombok, Bali, Surabaya, Jakarta hingga Makassar untuk belajar mengatasi kemiskinan dan berdagang. tanah Timor. Tanah Timor yang sekarang terpecah-pecah oleh kepentingan adminstratif dan politik, menjadi sebuah kawasan yang maju dan berkilau di bawah satu nama Timor Raya. Sehat, makmur dan sejahtera. Gambarannya sederhana sekali, saya tak menemukan lagi anak-anak kurus tak berbaju bermain di pinggir jalan. Juga, tak saya dengar lagi kasus kematian ibu, bayi dan anak yang mengenaskan. 

Sialnya, itu semua cuma impian saya. Setiap kali mendusin dari tidur, saya pasti selalu menarik kembali selimut rapat-rapat dan berusaha melanjutkan mimpi tadi. Tapi, sayang sekali, biasanya gagal dan saya kembali terhempas dalam kenyataan kemiskinan di tanah terberkati ini. Entah kapan saya tak perlu bermimpi untuk mendapati kenyataan baru di tanah ini. DICKY LOPULALAN

Tidak ada komentar: