Jumat, 17 Desember 2010

MENYIBAK KABUT PENGANGGURAN


ENTERPRENEURSHIP - PENALAHATI NTT concern dalam usaha pengembangan potensi manusia di NTT. Salah satu pilihannya adalah dengan menggali dan mengembangkan "Spirit Kewirausahaan" agar wajah pengangguran di NTT tenggelam menjadi sejarah.  


Catatan ini ditulis dengan memakai gaya tutur khas “warga Kupang”. Sebuah catatan tentang Potensi NTT yang belum termanfaatkan. Selamat membaca!

***
Kelaparan terjadi bukan karena tak ada makanan di pasar, tetapi warga terlalu miskin, tidak mampu membelinya  (Amartya Sen, Peraih Nobel)

Pada mulanya hanya angan-angan saja, yang kitari kepala demi kepala kami disini. Setiap bertemu, ide-ide besar dan liar tumpah ruah. Salah seorang dari kami pernah bilang, " Eh lu dangar kalo dorang di Italia sana punya liga seri A dan dorang di Brasil sana bisa produksi pamain bola dunia, maka kita dong disini akan buat dorang takaget-kaget, samua mata dong malongo liat kita dong di Entete sini".

Ini kisah tentang impian hebat, hadirnya kompetisi paling akbar sepanjang sejarah. Sekolah-sekolah bola akan tumbuh dimana-mana, akan hadir pertarungan dari kaki ke kaki setiap hari, bagai liukan Ja'i, anak-anak Entete akan berpesta di lapangan apa saja. Dari tanah air ini, akan lahir pemain bola dunia sekaliber Zidane atau si hitam Pele.

Pada mulanya cerita ini dianggap sampah, karena di tanah ini impian itu hanya milik anak-anak saja, menjelang remaja usai SMU, seluruh impian "terpaksa" dikubur dalam-dalam, seperti dalamnya laut Sawu. Lautan yang jadi jembatan kemanusiaan orang-orang Entete.

Untuk apa bermimpi, jika mau makan saja, bapa dan mama dong...harus berhutang setiap hari. Dan untuk apa bermimpi hebat, jika bangku perguruan tinggi disini tak sediakan apa yang beta mau. Beta mau jadi Pemain bola bukan Pangacara. Beta mau jadi Patinju bukan Panganggur. Kreatifitaspun tumpul, arak, moke, laru jadilah kawan sehari-hari. Kokok ayampun tak sudi bangunkan semua pemuda yang pulas.

Demikianlah, kisah ini terus berlangsung dari generasi ke generasi. Adapula generasi lain yang beruntung, dapat belajar ke tanah seberang. Sialnya, ketika kembali, sebagian dari mereka...eh membangun kelas sosial baru. Mirip kerajaan langit. Semua orang dianggap bodoh, tak mangerti, apalagi bapa mama dong di kampong-kampong. Kisah ini juga berlanjut dari generasi ke generasi.

Hari ini sebagian dari kami, terbangun sadar. Kami tak seperti yang banyak orang kira. Kami bisa melakukan apa saja, karena kami mau . Tanah kami kaya raya, air kami banyak ikannya. Tanah kami (memang) kering, tapi kering tak berarti miskin. Pada mulanya semua orang menganggap ini mimpi dan kami akan menjaga mimpi ini. Hingga akhirnya semuanya menjadi nyata dan selamanya.
FARIS VALERYAN WANGGE

Tidak ada komentar: